Showing posts with label Architecture. Show all posts
Showing posts with label Architecture. Show all posts

Wednesday, November 30, 2016

Sayembara Sakit Punggung

“Ironi arsitek adalah dibalik kesehariannya yang berkutat dengan desain bangunan yang indah dan menawan ada orang-orang yang masih menginap di kosan penjara tak berjendela, yang satu-satunya cara untuk mengetahui hujan adalah melalui bocor yang menetes tenang ke panci mie-instannya.”

Yaa, yaa, saya tahu, setiap pekerjaan memiliki ironinya masing-masing, baru kemarin hati saya terenyuh melihat sebuah foto yang menunjukan ekspresi yang sangat jujur dari seorang driver gojek yang sedang memperhatikan seksama proses pengerjaan martabak yang harganya setara kira-kira fee 10x perjalanannya ke sana. Ada badut yang dibalik senyum palsu literary-nya, ada tumpukan tagihan dan anak istri yang membutuhkan senyum dan tawa jauh melebihi anak-anak yang secara professional ia hibur dengan harga yang bisa dibilang cuma-cuma.  Dan tentunya, ada teller bank, yang tak perlu dijelaskan lagi, kita semua tahu apa ironinya.


 Yang pertama dan paling Utama

Bank.

Baru-baru ini saya berurusan dengan bank, dan ini bukan berurusan pada umumnya dimana bank berperan sebagai tempat transit uang dari para bos ke penjual nasi goreng, kali ini urusan saya dengan Bank tak jauh-jauh dari urusan arsitektur seakan menjadi arsitek selama 8 jam sehari selama 5 hari tak cukup. Yaa saya barusan ikut sayembara desain fasad BCA, dan itulah urusan saya baru-baru ini dengan bank.

Baru tapi tidak baru, berubah tapi tidak berubah.

Frase yang ritmis yang sukses bikin punggung saya sakit selama berhari-hari dan kepala terasa panas seperti smartphone yang sedang syncing di internet yang lelet. Melihat rekam jejak perubahan fasad BCA yang sudah beberapa kali, itulah yang kemudian saya tangkap dari transformasinya.

Baru tapi tidak baru, berubah tapi tidak berubah.

Rasanya mau menyerah saja setelah beberapa hari memeras otak, tak keluar satupun ide yang layak. Namun mengingat betapa hati saya sangat gusar karena batal mengikuti sayembara propan, saya paksa diri saya untuk kembali menemukan energi untuk mengolah konsep,

Baru tapi tidak baru, berubah tapi tidak berubah.

Yap, dan siklus ini pun berulang selama beberapa hari hingga akhirnya saya memutuskan untuk meminta bantuan.

Long story short, the ice finally break and ideas began to flow. 

Panel Presentasi | Klik Biar Gede

Setelah ditolak gery, dibantu rejak, hingga berkolaborasi dengan adri, akhirnya sayembara sakit punggung ini selesai juga di hari batas pengumpulannya. Dan dengan bantuan Kakak yang berlokasi di Bekasi dan dengan pinjaman kartu IAI ribas, akhirnya karya sayembara ini berhasil dicetak, dikemas dan dikirim..
.
Keesokan harinya. 

The Late Brothers

So Yeay!

Saya sudah tak berharap apa-apa dan memvonis diri saya kalah jauh sebelum hari pengumumannya. Tapi tetap saja, ketika hari pengumuman tiba dan saya tahu saya tidak termasuk satu dari sepuluh orang yang dihubungi panitia rasanya kecewa juga. Bukan apa-apa, terlepas dari berbagai kekurangannya, saya tetap suka dan bangga dengan hasil akhirnya. Dan dibalik karya yang terlambat tiba di tujuannya ini, ada kerja keras dan dukungan dari orang-orang yang entah kenapa mau repot-repot membantu saya.

Seperti kata Hiruma, selama peluangnya belum 0%, masih terlalu cepat untuk menyerah. Saya memutuskan untuk tidak menyerah, dan meskipun saya kalah, saya tetap bahagia karenanya.

Sunday, October 16, 2016

Sayembara Bersama Kakak

Rumah Bolon Exterior View

Jika menghitung satu sayembara edan edanan bersama seoerang ganteng edan bernama Bryan Reinhard Batara sekitar tiga tahun lalu, ini adalah keempat kalinya saya mengikuti sayembara arsitektur secara berkelompok. Dua diantaranya adalah Sayembara Museum Batik sekitar setahun lalu bersama Pak Harry Kurniawan, Mas Hendro Tridiantoro, dan seorang edan lainnya bernama Ndaru dan Sayembara desain Balai Pertemuan/Gedung Serbaguna/Paviliun bersama Addina Faizati, yang merupakan sayembara arsitektur kedua dalam hidup saya yang juga merupakan sayembara berkelompok pertama saya.

"Pavilon/Multi Function Building, Boy.. Do I familiar with this kind of Function?" 

Tiga kali sayembara secara berkelompok jelas masih merupakan pengalaman yang sangat minim baik dalam kehidupan berarsitektur dan apalagi kehidupan bersayembara. Oleh karenanya, untuk pengalaman keempat saya sengaja memutuskan untuk turut serta bergabung bersama kakak-kakak yang berpengalaman sehingga bisa mendapat bimbingan dan experience booster untuk sayembara kelima, keenam dan kesembilan ratus dua puluh lima yang jika Tuhan mengizinkan akan saya jalani dalam kehidupan yang singkat namun penuh tuntutan ini.

Adalah Kak Olindo Sitanggang dan Kak Bintang Nidia Kusuma yang mau berbaik hati memungut saya kedalam kelompok super mereka yang jelas potensi menangnya akan jauh lebih besar tanpa kehadiran saya yang masih hijau dan ingusan ini. Bagaimana tidak, Kak Bintang baru saja memenangkan sayembara Denpasar Youth Park yang saya hanya mampu kerjakan secara harap maklum dan kemudian kalah secara wajar, ditambah Kak Olindo yang sudah pernah naik Gunung Fuji dan berfoto bersama Bunga Sakura yang dalam tahun pertama kerjanya sudah dipercaya menangani Interior sebuah projek dari konsep hingga ke detail-detailnya, kemenangan, jelas sudah terlihat layaknya Gajah di pelupuk mata. 

Tak hanya itu saja, Kak Olindo yang diimpor langsung dari Medan yeng kerasnya seperti Jl Imam Bonjol dalam skala kota, jelas merupakan aset tak ternilai terutama karena kami memutuskan untuk mengerjakan Rumah Bolon yang merupakan rumah tradisional bagi masyarakat Batak, yang darahnya mengalir kental di jiwa dan raga Kak Olindo yang sudah seperti Konsultan Ahli bagi kelompok kami.


Rumah Bolon Master Bedroom Interior

Yap! Rumah Bolon. Brief sayembara yang dikeluarkan oleh Indocement kali ini, menantang para arsitek-arsitek muda untuk membuat versi modern dari Rumah Tradisional yang bebas dipilih dari begitu banyaknya tipe rumah tradisional di Indonesia. Ide yang sarat akan pesan moral seperti ini selalu menarik bagi saya, terutama karena sebenarnya Indonesia sangat kaya, namun banyak dari kita yang memilih terpaksa miskin akan pengetahuan tentangnya, dengan dalih kesibukan baik selama menempuh pendidikan atau berkarir demi menjauh dari mie instan di akhir bulan. Dan jujur saja, jika bukan kareana sayembara ini, saya mungkin tidak akan pernah tahu bahwa Indonesia, punya desain rumah menarik seperti Rumah Bolon yang pada otak-otak yang tepat, dapat menjadi aset yang sangat berharga dalam memperkaya konsep transformasi untuk berbagai macam desain dan tipologi.


Rumah Bolon Living Room Interior

Empat kali sayembara secara berkelompok, jelas masih jauh dari kata cukup terutama bagi saya yang masih Bau Kencur ini, kedepannya, semoga masih banyak orang-orang baik (dan gila) yang nama-namanya telah saya sebutkan sebelumnya yang mau menampung saya sebagai anggota kelompok mereka.

Bulan malam ini terang, semoga kelembutan sinarnya bisa menerangi ruang-ruang gelap di pikiran kita yang cenderung sempit meskipun potensinya jelas tak terhingga. Terima kasih telah membaca sejauh ini. Jika ada secangkir teh untuk menemani, silahkan baca lebih jauh di poster berikut ini, untuk tahu lebih banyak mengenai desain kami.


Panel Presentasi | Klik di sini biar gede.

Thursday, March 31, 2016

Denpasar Youth Park | A Challenge of Maklumicities

“Saya termasuk orang yang percaya bahwa bintang laut adalah benar sebuah makhluk laut dan bukan sebuah benda luar angkasa yang karena kecintaannya pada laut, lantas memutuskan untuk menetap di sana”

Hendro Prasetyo, 2016

Namanya Juga Usaha

Yep, saya serius memulai postingan saya dengan quotes yang sangat cerdas, mulia  dan memorable ini. Sangat serius seperti saat saya memutuskan untuk ikut sayembara desain di H-1 menjelang deadline seorang diri dengan meminjam KTP teman saya yang seorang Bali tapi ah gak juga sih pak.

Kenapa sendiri? Kenapa H-1? Kenapa harus meminjam KTP?

Kenapa Sendiri? saya rasa jawabannya ada di kalian yang mau repot repot membaca tulisan ini, Kenapa kalian biarkan saya sendiri? kalian tahu saya jenius, saya berdedikasi dan penuh determinasi, yang mana adalah hal yang sangat berguna untuk kompetisi. jadi kenapa kalian biarkan saya sendiri? apa karena saya tipe jenius yang menyatakan secara sepihak bahwa saya jenius seperti ini? yaa, bisa jadi.

Yot!

Ini apa sih sandal.

Kenapa sendiri? karena saya suka ketenangan, saya suka bekerja sambal nyanyi lagunya Sia yang Bird Set Free tanpa ada keraguan di hati. Kenapa H-1? Karena saya adalah pria sejati, dan pria sejati menyukai tantangan. Kenapa harus meminjam KTP? Karena ini kompetisi khusus orang Bali, dan saya? Lahir dan (merasa) dibesarkan di Jakarta, berKTP Bekasi, sekolah di Jogja, anak kelahiran Bapak Jawa, dan tinggal di Bali.

Jadi secara persyaratan sebenernya saya sudah kalah. Jadi ya sudah, kita harav maklum saja. Yang penting kan sudah usaha, namanya juga mencoba. Yaa boleh boleh saja. Perihal mencoba-coba itu, Cuma tidak boleh kalau dua, satu, perkara penggunaan Minyak Kayu Putih, yang kedua, perkara warung Nasi Goreng. Sudah jelas kalau Raja Nasi Goreng adalah the king of fried rice in Bali. Jadi ngapain coba coba yang lain. Apes apes, nanti dapet nasi goreng 8 ribu harap maklum yang rasanya lebih harap maklum dari kompetisi ini.

Yot!

Wis, timbang tak kakehan cangkem ora ceto, wis ndelok wae ki Poster Sayembara Denpasar Youth Park  ala Hendro Prasetyo, principle of Artdicted Studio.

Monggo~~


Poster I/II | Klik Biar Gede

Poster II/II | Klik Biar Gede

Note : What You're reading in the poster is mostly "E'e Lembu", because what i do is basically the same thing as many architects I know in the world would do. Which is, we design what we want to design and tell a story that you want to hear.

Or not.

Yot!

Sunday, October 5, 2014

Sayemba[RAW]

"Bagi saya, bekerja itu seperti main, Main-main yang memiliki tanggung jawab, dan menghasilkan sesuatu selain kebahagiaan. Karya dan Uang misalnya."
Hendro Prasetyo via Artdicted Daily

Entah apa yang merasuki jiwa saya yang sudah kerasukan ini beberapa bulan terakhir, tapi saya jadi sok-sok-an rajin ikutan sayembara arsitektur. Sesuatu yang di masa-nya dulu tidak pernah sebegitu menggodanya hingga saya mau repot-repot meluangkan waktu untuk mengurusinya. 

sudahlah, saya tidak mau banyak menulis, ini saya tunjukan saja, 3 sayembara yang 2 diantaranya sudah resmi kalah. 1 kalah karena memang tidak maksimal dikerjakan dan 1 kalah karena saya cukup yakin tidak didaftarkan oleh panitia yang saya ajak berantem karena tidak mau mengakui kesalahannya. sedangkan yang satu lagi, resmi terdaftar dengan dua kesalahan. 1 kelebihan panel presentasi akibta info yang tidak jelas baik di web sayembara ataupun dari customer service-nya, dan 1, kelebihan budget RAB hingga 3x lipatnya. 

yasudah, tanpa perlu bicara lagi, silahkan dilihat, dan di caci maki. fufu~

1. Sayembara Museum Batik [dikerjakan secara LDR dengan : Pak Harry, Mas Hendro, dan Mas Ndaru ]

klik biar gede
klik biar gede
klik biar gede
klik biar gede
klik biar gede
klik biar gede

2. Sayembara Playground Indocement


klik biar gede

klik biar gede

Si sayembara ini, sesungguhnya secara konsep dan bentuk mirip sama karya TA saya yang ganteng. sadibilang ini adiknya. kalau si kaka adalah ruang kreatifitas tanpa batas, si adik adalah ruang imaji tanpa batas. sekedar info, itu imagenya ga ada yang di render. cuma dari eksportan sketchup. keren kan ? fufu~

ini satu-satunya sayembara yang masih ada harapan. wish me luck will you ?

3. Sayembara Desain Interior


klik biar gede

klik biar gede

klik biar gede

nah, khusus yang ini saya mau cerita agak panjang sedikit. karena sejujurnya saya masih gak ikhlas kalah karena saya yakin karya saya cukup bagus seenggaknya buat jadi 30 besar, terutama yang karya desain interior apartemen. jadi, ini adalah si sayembara yang saya kalah karena saya cukup yakin saya gak didaftarin dengan benar. darimana saya tau ? begini kronologisnya. 

saya daftar dua kategori sayembara secara random just so i know nothing to loose so what the fuck -> ditelfon panitia 2 menit kemudian -> dikonfirmasi universitas dulu (fyi : ugm ga ada di list universitas yang tersedia di web registrasi) -> dikonfirmasi keikutsertaan di dua kategori -> oke. -> diemail TOR -> cuma satu kategori aja, tapi saya bodo amat -> sebulan kemudian saya mau ngumpul karya tapi tanya dulu ngirim satu-satu boleh ga -> panitia syok ! "bukannya mas emang kedaftarnya di sayembara kategori are publik aja ?" -> les balesan akhirnya dibilang yauds kumpulin aja dulu -> saya kumpulin yang kategori apartemen -> ditelfon panitia "mas, karya-nya udah kami terima, tapi kok mas kirim yang apartemen ?" -> dfq !? kemarin kan udah gw jelasin di email -> oiya, ARB-nya ga ada mas ? -> aburizal bakrie ? -> RAB maksudnya ? -> emang diminta ? di list data yang harus dikumpul berdasar TOR ga ada tuh, di email kemarin pas nanya juga cuma disuruh ngumpul karya sama biodata aja ? -> yeeh ada tau mas, rab-nya dikumpul ! -> berantem lah kita -> berantem -> saya ngaku salah karena udah males nanggepin -> mas-nya "luluh" . okay, rab-nya ditunggu ya mas, sama karya satu lagi, ntar masalah pendaftaran saya bantu -> okay -> 3 hari kemudian saya kirim ulang karya. kali ini lengkap dua kategori + ARB ! (friggin ARB !!) -> ga ada email konfirmasi karya diterima -> h-1 deadline saya telefon minta konfirmasi, karya udah diterima ternyata -> okay - 2 minggu kemudian pengumuman keluar di Facebook, tapi pake kode pendaftaran, yang mana gak pernah dikasih -> penasaran lalu saya whatsapp panitia -> disuruh tunggu dengan sabar -> besoknya ternyata peserta lain yang nanya di facebook dikasih nomer pesertanya dengan cara dibalesin komennya satu-satu -> saya bete. this is stupid -> lalu muncul postingan panitia, bagi yang mau tanya no.reg bisa via whatsapp -> saya whatsapp -> disuruh tunggu di web -> kampret ! yaudahlah serah lau aja -> di web muncul pengumuman noreg + nama -> saya ga ada. yeah ! dfq !? wtf ? yaudhslahyew kampret ! 

okay segitu aja.
sayemba[RAW].
maunya sayermbara, tapi karyanya masih RAW.
yaudslahyew~~

Friday, January 25, 2013

Indomaret Fresh !

Indomaret Fresh ! Yap ! Mini Market waralaba ini mau membentuk sebuah image baru sekalian ngeluarin tipe mini market yang menawarkan konten dagangan yang lebih lengkap. Mungkin karena ngerasa ngebayar arsitek plus graphic designer buat ngedesain logonya bakalan mahal dan idenya terbatas, Boss-nya Indomaret memutuskan buat mengadakan sayembara yang pesertanya adalah mahasiswa. Mengingat status saya sebagai mahasiswa dan ikrar saya untuk merintis karir di 2013, saya kemudian bekerja sama dengan Juwitaa Kurnia turut serta dalam sayembara ini.

Dan inilah karya kami. Indomaret Fresh ! dengan konsep muda dan natural sebagai bentuk dari fresh itu sendiri. Enjoy !

The New Look

The Interior


New Feature - Butcher Shop


The Facade

Another Interior From
Another New Feature - Bakery Shop

Well, hadiahnya besar banget. Juara satunya 50 juta. Dan semenjak kalian sudah melihat dan membaca sampai sejauh ini, alangkah baiknya kalian menutupnya dengan mendoakan kami, agar kami bisa memenagkan kompetisi ini. Sehingga kalian bisa menikmatinya dalam bentuk yang nyata. Amin !

Thursday, December 20, 2012

Studio Terakhir


" It's Funny how Three and a Half Year seems so fast while An Hour and a Half in Structure and Construction class feels like forever "

Studio Terakhir. 7 semester, 13 Tugas Desain, dan entah berapa tugas maket komposisi. Lagi - lagi dari mahasiswa culun yang seminggu dua kali dateng ke studio sambil wondering mau ngapain dengan apa lagi hari ini, sampe ke mahasiswa senior yang datengnya lebih ga tentu dibandingin dosen pembimbingnya. Dari plastisin, karton studio, stik es krim, tusuk gigi, tusuk sate, ivory, sampe stocking udah dicobain. Dan kemarin, 19 desember, dua hari sebelum hari yang diisukan sebagai hari akhir, buat saya dan sebagian besar teman seangkatan, resmi berakhir juga studio terakhir.

Rumah Sakit Jiwa, sekitar 5 bulan lalu, rasanya lumayan excited ketika bisa nulisin nama di daftar peserta studio tematik dua dengan tema ini. Proses yang lumayan panjang dan literary menyakitkan hati sampe akhirnya kemarin di "Display" sama si Boss untuk terakhir kalinya dan dibilang Lumayan.

"Kemajuanmu wes lumayan" - Si Boss


Poster Display Perdana
Ga kebaca ? Klik biar GEDE

Remember the Junkie post titled JUNK! ? Well this is one hell of a process. Ini gambar-gambar pertama yang disiapin buat display pedana sama si Boss. ga banyak mikir, asal bikin, yang penting keliatan keren. Hasilnya ? Diejek dan dibantai sama si boss.






" seko gambar-gambar kui, sing endi sing menurutmu paling apik ? " 

tanya si Boss ke temen-temen yang dijawab dengan diam, dan akhirnya beliau jawab sendiri, "sing kui-kui iki toh ? " sambil menunjuk empat gambar diatas.

yang kemudian dialanjutkan dengan mengejek 5 gambar dibawah. gambar-gambar yang  sebenernya dibikin buat meng-impres si Boss, yang sayangnya dibuat tanpa pikir panjang.


Interaction Court

Mbuh

Psychiatry

Commercial Area

Amphitheatre

Belajar dari kesalahan pertama, desain yang kedua dibuat dengan lebih banyak pertimbangan. Lebih mikir, terutama secara funsgi dan proporsi bangunan. Well, di desain yang perdana saya secara luar biasa bodoh membuat bangunan dengan panjang sekitar 100 meter. What a Tool... 


Revised Psychiatry

Employees Dormnitory

Aerial View 

Drug Rehabilitation Center

Niatnya lebih mikir, hasilnya ? diejek lebih parah sama si Boss. Desain rehab centernya bahkan dibilang kaya DAM, atau dalam bahasa lain biasa disebut bendungan. Desain yang lebih dipikir ini, nyatanya dibilang kalah menarik sama desain yang pertama, walaupun si Boss menekankan pada fungsi desain pertama yang mbuh nggo ngopo.


Poster Display Ketiga/Semacam Final
Ga kebaca? Klik biar GEDE

Resminya ini poster buat Display kedua yang diselenggarain bareng satu studio. Tapi khusus buat kelompok si Boss, bisa dibilang ini poster buat display akhir. Kami bahkan udah diminta buat maket. Sesuai saran si Boss, saya membuang desain kedua dan mepertimbangkan kembali desain pertama. Tapi karena saya bingung dengan status mbuh nggo ngopo, saya memutuskan buat ngedesain dari awal lagi, dengan sedikit mepresedenkan desain pertama. Hasilnya ? setelah beberapa kali kecewa, dan sakit hati plus sedikit merasa perlakuan tidak adil, akhirnya untuk desain yang satu ini, si boss bilang,

" Lhoo ko Apik ? , Nggon-mu ? " sambil menunjuk ke maket dan lalu ke saya, kemudian setelah satau anggukan lemah dari saya, beliau mengakhiri kalimatnya hanya dengan mengangkat jempol .

Puas rasanya kalo kerja keras kita diapresiasi sama orang lain. 

Aerial Kawasan

Aerial Kawasan

Display ketiga sama si Boss emang hasilnya memuaskan, tapi berikutnya, begitu di display di hari yang sama, sama dosen pengujinya, saya, atau lebih tepatnya kami mati kutu. Yaa, saya dan teman-teman dibantai dengan pertanyaan seputar standard dan analisis mendalam yang sama sekali ga pernah disinggung sama si Boss.


Sport Hall

Education Center Tower

Mosque

Another revision of Psychiatry

Kaya yang udah dibilang sebelumnya, display ketiga secara produk sebenernya udah mencapai level display final, jadi untuk display final yang sesungguhnya, saya cuma nambah beberapa detail 3D aja. Ga penting emang.

Display sama dosen penguji terakhir juga kelompok kami lagi-lagi dibantai sama dosen penguji. Dan entah harus dibilang beruntung atau sial, saya dapet giliran sebelum terakhir. Ngeliat satu demi satu teman saya dibantai sampe speechless dan bisanya cuma cengar-cengir panik berharap semua segera berakhir, saya untuk pertama kalinya ngerasa takut di Display. Untungnya, dengan giliran terakhir, saya bisa belajar dari teman-teman saya, dan menjelaskan konsep saya secara runtun. Dan si dosen penguji hanya mengiyakan sampe akhirnya presentasi saya dipotong di  seperempat jalan. Minus pembantaian yang terjadi sama teman-teman saya. 

Pikiran saya pun mendua antara berpikir si dosen mikir "okay, this one is good" sama "okay, i've heard enough of your crap!" , dan setelah display terakhir yang terjadi secara singkat dan wusshhh~ pada teman saya, si dosen mengumpulkan kami semua untuk final review. Di awal beliau mengucapkan kekecewaannya pada kelompok kami atas minimnya analisis kami dan lemahnya konsep beberapa di antara kami. Tapi kemudian, beliau mengungkapkan bahwa beliau lumayan happy dengan One Stop Psychological milik saya, karena terlepas dari Eksterior bangunan yang beliau ga sepaham, konsep yang saya sangat jelas, dan terarah secara baik sampe ke desain saya. Dan ada satu lagi miliki mba senior yang juga beliau puji karena juga memiliki kejelasan konsep dan integrasi fungsi bangunan dalam kawasan tersebut. 

Versi si Dosen penguji, desain saya memang yang paling jelas. Tapi versi si Boss, Juaranya tetap si konsisten-selalu-mendapat-bulat-dari-si-Boss, dan saya, cuma ada di level Lumayan. Baik secara desain, ataupun Progress. 

Berakhir Begitu Saja. Setiap habis display, itu yang selalu ada di kepala saya. Semua usaha untuk ngelembur kerja keras mendesain, meproduksi, melayout, dan memaket, kemudian berakhir begitu saja. Proses, dan penghakiman, 7 semester, 13 Desain, Puluhan Ide, Ratusan lembar sketsa dan konsep serta jam kerja, 19 Desember, resmi Berakhir Begitu Saja.

* Si Boss adalah Dosen Pembimbing saya, seorang yang literary Boss dengan omset perusahaan diatas 5 miliar per-tahun

Wednesday, June 6, 2012

Edutainment Park +

the Mock Up

ahh! welcome to the newest architecture project of mine. This one is called Edutainment Park +. This is a project for Studio Desain Tematik 1, the project is to create an international research plaza. The site location is in St.Bouleavard, of Gadjah Mada University. an edutainment park + is my genuine concept to answer the  challenge of the design.

so, here it is.
enjoy !


Click to Make it larrge

Click to Make it Large

Click to Make it Large


those are the presentation poster, the first picture is the original one, and the two following is the detailed version from the first.


the East Wing

the West Wing



So, the building is divided into to different mass, and different location separated by the st.boulevard itself. the East side of the building is for the research plaza, while the west side for the plus, which are research gallery and conference center.


Business Center

Science Lab

Social Space

and those three are the research unit interior. i divided the research unit into four groups, and they are science, social, business, and culture. Those research unit interior is made based on their local living culture.