Showing posts with label Random Thoughts. Show all posts
Showing posts with label Random Thoughts. Show all posts

Thursday, May 25, 2017

Ahok dan Megan Fox

2 Tahun penjara, 2 Sejoli, 2 Tahun sisa jabatan. Wait? Bukannya sisa jabatannya berakhir bulan oktober ini? Yes for him, but I’m talking about the other guy. Yep! In case you haven’t been able to put the two and two together, 2 tahun lagi akan ada pilpres, dan jika pemenjaraan ini berlanjut, guess who’s gonna come out as hero in two years? As someone who’s done absolution, yes, he’s the man of the hour. The one and only Ahok. My guess is he’ll reassemble with his true partner in crime, our dear President, Mr. Jokowi. Together they’ll fight for the next presidential election. Bro to Bro like that old times when they fought for Jakarta.

I know right, where’s this coming from? Super skenario konspirasi festival drama kancah perpolitikan bangsa dan negara ‘bet! Well, what can I say, I am both (self-acclaimed) Director and Architect, I’m no stranger to seeing the bigger picture, imagine the outcome of a full scenario or making one for that matters, and believe me guys, if anything, it’s just getting started.

Ibarat mata, Ahok ini Pupilnya. Item bulet ditengah. Sedangkan semua “aksi damai dan simpatik” baik yang pro maupun kontra, tulisan, update-an status, meme, kontroversi dan nasi bungkus yang beredar karenanya, ibarat Iris yang ribet, ruwet, dan mbuntet yang kemudian membentuk warna mata itu sendiri. Yows, Ahok pupil, sisane iris, Njuk Ngopo!?

Boosss… Mata Bos! M A T A. Iluminati! Mata, kontroversi, konspirasi, the all seeing Eye! Kesimpulannya ini semua bagian dari rencana iluminati! Dan nasi bungkus itu semua disponsori oleh kafir, yahudi, amerika! Booomm!! Mind blown!

Dari Mata turun Ke Hidung | Sumber

Buat yang belum tahu, itu namanya cocoklogi. Prinsip dasar yang dijadikan modal terbesar untuk pembuatan segala hoax dan penggiringan opini yang sayangnya sering dimakan mentah mentah sama mereka yang sudah terbutakan baik oleh cinta maupun benci terhadap sesuatu. Dalam kasus Ahok ini misalnya, prinsip ini jamak digunakan kanal kanal opini macem katakita, seword, jonru, yang sebenernya jelas keberpihakan dan kepentingannya. Kanal kanal yang sebenernya lagi cari duit, tapi kerap kali dipercaya dengan mudahnya, dishare, diamini, dilike dan diketik reg spasi. Bagi saya, kanal kanal kompor meleduk macam ini harusnya sudah ditinggalkan dari jaman nenek masih remaja dahulu, selayaknya juga sinetron dan semua drama drama india yang bikin otak alus mulus dan kencang seperti diolesi krim anti-aging. So the question is, why haven’t you?

Balik ke masalah Ahok dan penahanannya. Ada berbagai aksi “damai-simpatik” yang mengiringi perjalanannya, dari yang berjilid-jilid, bakar lilin, karangan bunga sampe nginep depan cipinang, semua ada. Pertanyaan saya, ngaruh ga sih? Saya pribadi gak paham apa sebenernya esensi dari semua aksi simbolik ini. Kabeh mung gawe rame tok, esensinya mbuh. Ujung-ujungnya saling nyinyir. Seriusan deh, ngabis-ngabisin sumber daya.

Buat yang pro Ahok, perjuangkan apa yang Ahok perjuangan. Anti Korupsi, birokrasi bersih, keadilan sosial, jangan sampe karena Ahok udah gak menjabat lagi, birokrasi yang udah mulai membaik jadi busuk lagi. Saya yakin yang anti Ahok juga pengen ini terjadi. Kecuali emang yang emang dasarnya bangke aja yang merayakan Ahok yang bukan lagi akan gak menjabat tapi lantas dibui supaya bisa bebas korupsi dan mager-mageran berbayar dan berfaslitas.

Buat yang anti Ahok dengan dasar dia sudah “menistakan/menodai Agama”, lakukan segala hal yang bisa bikin nama Agama jadi semakin baik. Buat orang percaya bahwa Islam yang kalian “bela” dalam berjilid-jilid aksi itu memang indah, damai, toleran, dan baik bukan hanya bagi pemeluknya, tapi buat seluruh alam semesta sesuai yang ditakdirkan padanya. Lagian apa sih frase Penodaan Agama ini? Agama apapun akan tetap agung akan tetap indah dan bersih betapapun orang apalagi yang gak mengerti akannya berusaha mencerca dan menjatuhkan keridibilitasnya. Kalo ada yang akan terpengaruh akan segala usaha menistakan ini, yaa Cuma penganutnya saja. Agama dan Tuhan akan tetap Agung. Di Islam sendiri sudah diajarkan ko, Allah akan tetap Agung dan Maha Segalanya meskipun semua orang berhenti sholat. 

True Love Knows no Difference

Saya sendiri gak percaya dengan Demo bela agama ini. Saya gak merasa terpanggil dan terwakili dan gak merasa Agama saya terbela dengan Demo yang dihiasi sama berbagai hal baik seperti bagi-bagi makanan buat para mujahid, sholat subuh berjamaah, tilawah, dzikir dan sholawat masal, tapi juga dinodai dengan spanduk-spanduk dan hujatan kasar dan asimpatik macam babi, bakar, bunuh, gantung dan segala rupanya. Jadi ketika kalian demo terkait kasus penistaan agama, yang sedang menista dan menodai agama kalian juga ada di demo itu. Dan kalian biarkan saja bukan? Padahal kalian ada di situ. Belum lagi kalo bicara jelas ada kelompok tertentu yang jelas menerima benefit dari aksi aksi ini melebihi umat Islam sendiri. Yaa kalian boleh denial, tapi faktanya memang ada. You just refuse to see, and when you do, you refuse to acknowledge.

Kemarin baru ada bom-bom yang mengatasnamakan Islam. Yang di kampong melayu, yang di konser Ariana Grande, dan yang mungkin udah jadi rutinitas di negara konflik macem Syiria. Buat saya, yang macam ini lebih melukai perasaan saya sebagai seorang muslim. Sama halnya juga buat orang-orang yang suka bubarin acara ini itu atas nama Islam, baik yang dibubarin acara agama lain, ataupun acara agama Islam, atau bahkan acara yang ga ada urusannya sama agama macam festival makanan yang kebetulan memang menu utamanya babi. Udah aja kalo gak makan babi yaudah gausah dateng. Kalo kalian curiga ini sebagai bentuk pendangkalan aqidah, yang perlu dicek yaa aqidah kalian. Gak ada ceritanya Islam ngajarin kekerasan. Dan definisi kekerasan gak sebatas berupa pemukulan, bom bunuh diri, penembakan, dan hal lain yang sifatnya physical, tapi juga kekerasan dalam bentuk verbal dan tulisan macem hate speech. Jadi kalo kalian mau melakukan hal yang sifatnya membela agama, pastiin dulu yang kalian lakukan gak melanggar ajaran agama itu sendiri.

Bagi saya, kalo memang mau membela agama, caranya lebih gampang. Jadilah pemeluk agama yang baik. Bagi diri sendiri dan bagi orang-orang disekitar. Mulai dari yang terdekat saja. Dan baik yang saya maksud lebih berarti ke bermanfaat dibanding baik as in, ramah tamah, tidak sombong dan rajin menabung. Kamu bisa kasih apa sih ke lingkungan tempat tinggal kamu? Ke kota kamu, ke negara kamu, ke bumi tempat kamu berpijak? Rahmat apa yang bisa kamu kasih? Bayangin deh, kalo setiap orang yang dateng demo nanem pohon satu aja, udah ratusan ribu pohon baru ketanem. Jadi oksigen. Jadi penyejuk. Jelas bermanfaat. Apalagi kalo berbuah. Atau lebih simple, patungan seribu. Udah jadi berapa banyak tuh uangnya? Bantu sodara sodara di pedalaman yang perlu jalan yang bagus, perlu jembatan, perlu sekolah yang atapnya gak bobrok. Esensial bukan? Timbang kalian demo dan malah bikin macet. Nyusahin orang lain.

Berlaku juga buat yang bakar lilin, itu sampah lilin siapa yang akhirnya beresin? Itu lilin kebakar jadi apa? Jadi asap tok. Bayangin kalo sumber daya untuk demo lilin ini dikumpulin aja buat danain riset bocah pohon kedondong. Atau buat bayar app developer atau hacker buat bikin aplikasi atau spyware control birokrasi biar lebih bersih seperti yang dicita-citakan Ahok. Esensial bukan? Mumpung masih musim hack-hack-an, udah aja atuh sisan.

Gantengers | Sumber

Kalo ada value dari Ahok yang bisa dicontoh baik oleh yang Pro maupun Anti, adalah dia orang yang praktikal. Dari apa yang saya lihat dia gak peduli dengan apa yang terlihat, dia gak percaya simbol simbol dan pesan moral yang terkandung di dalamnya, he believes in action, values and benefits that comes with it.

Sekali lagi saya tekankan, apa yang diperjuangkan Ahok utamanya adalah Anti Korupsi, Birokrasi Bersih dan Keadilan Sosial. Hal-hal baik yang saya yakin juga diinginkan baik bahkan oleh yang Anti padanya. Santer isu beredar bahwa sekarang negara sedang berusaha dipecah belah. Isu ini dan apa yang diperjuangkan oleh Ahok, adalah apa yang seharusnya menjadi concern kita bersama sekarang. Yang seharusnya menjadi lawan bagi anti ahok bukanlah orang yang pro ahok. Berlaku sebaliknya, musuh orang yang pro ahok bukanlah yang anti ahok. Musuh kita semua sama, orang yang sedang berusaha memecah belah bangsa, koruptor, birokrat yang malas dan oportunis, sinetron india, dan satu yang paling utama. Kebodohan! 

Practical Man is Batman

So let’s be smart guys! I know we can. Mari menjadi bangsa yang cerdas yang bisa membedakan mana kawan mana lawan, mana yang esensial dan mana yang hanya membuang buang energi, mana yang bisa membuat kehidupan yang lebih baik bagi sesama manusia beserta seluruh elemen alam semesta.

Tuhan menciptkan kita dengan segala perbedaan dan keberagaman bukan untuk saling hujat dan merasa lebih baik satu sama lain, tapi untuk saling belajar dan memperkaya diri kita menjadi lebih baik dari saling mempelajari perbedaan yang ada. Tuhan juga memberikan kita sebagai warga negara Indonesia alam semesta yang kaya beserta keindahan dan kedamaian yang menyertainya.  Tugas kita, menjaga dan melestarikannya.

Peace comes with a high price, and only together, we can afford it. Nama saya Hendro Prasetyo, saya seorang Muslim, saya warga negara Indonesia, atas nama keduanya, saya mengajak kita semua untuk menjadi lebih cerdas, lebih kritis, dan lebih legowo. Salam Damai! Hidup Megan Fox!

Wednesday, October 12, 2016

Ahok, Anies, Pria Satunya Lagi dan Kamu.

“Bercanda alam semesta adalah ketika Tuhan membuat secuil alam semesta kembali mengingat sebuah Kitab Suci melalui mulut liar seorang yang digadang-gadang sebagai musuh golongan yang dianugerahkannya oleh secuil dari cuilan alam semesta.”

Halah ribet cuk! Mau bilang orang Islam kembali inget Al-quran lewat mulut seorang Cina Kristen aja harus pake algorithm yang ribet gitu. Kerasa banget Indonesianya. Sopan, santun, berusaha untuk tercitra baik dan teladan masyarakat serta menghindari konflik melalui pemilihan kata-kata yang dirasa tidak akan melukai pihak tertentu. Pft… upil. Padahal mah aslinya…. Ah SUdahlah lah yes.

“Ahok jangan melecehkan Naruto!”

Dari segala pernyataan yang beredar liar seperti burung gereja di musim kemarau yang e’enya ngotorin mobil sesuka hati tepuk tangan, adalah statement dari seorang Sandro Dwi Armanda yang paling mengena buat saya terkait Ahok dan pidatonya yang dirasa mencederai ketenangan bathin sejumlah orang. Simple, tegas, satir, lugas, jujur, indah dan bersahaja.  Seandainya semua orang bisa mengemas kegelisahannya seperti ini, sungguh isu apapun yang beredar di masyarakat, akan indah rasanya lini masa saya. Apalagi karena segala bentuk selfie, groufie, dan kegundahan hati telah resmi saya “Hide Post” atau Unsubscribe setelah beberapa strike sebelumnya.


Enough is Enough ~~~

Mengulik tentang Ahok dan Anies Baswedan yang akhirnya maju Pilkada DKI Jakarta 2017 lewat jalur parta indahnya dimulai dari mepertanyakan apakah :
  1. Ahok dan Anies Baswedan memang haus kekuasaan sehingga rela mengkubangkan dirinya bersama sekelompok orang yang rekam jejaknya jelas tak seindah cinta yang lalu.
  2. Ahok dan Anies Baswedan memang sebegitu inginnya berkontribusi pada Jakarta, Indonesia, dan Masyarkat sehingga rela mengkubangkan dirinya bersama sekelompok orang yang rekam jejaknya jelas tak seindah cinta yang lalu.
Jika memang jawabannya adalah yang pertama maka pertanyaan lanjutannya adalah : Jikapun memang haus kekuasaan apakah masalah jika pada akhirnya mereka benar-benar bisa berkontribusi pada Jakarta, Indonesia dan Masyarakat dan membawa Jakarta ke arah yang lebih baik?


Hmmm


Ahok dan Anies biar bagaimanapun adalah dua dari sedikit sekali orang yang saya respect terutama di kalangan pemerintahan. Beyond that even. As a person. In compared to the rest of people in the world.

Bahkan sebelum Anies Baswedan menjadi Menteri Pendidikan, orang ini sudah masuk ke dalam radar saya lewat perannya mencetuskan program Indonesia Mengajar dan keinginannya menjadi Presiden lewat jalur Konvensi Partai Demokrat yang dari awal sudah jelas nasibnya akan seperti apa. Lewat Mata Najwa juga saya pernah melihat betapa Anies termasuk dari sedikit sekali orang Indonesia yang ketika berbicara saya mau dengarkan secara utuh tanpa mengernyitkan dahi, tertawa geli karena miris, atau keinginan untuk melempar remote dengan harapan menembus TV dan mengenai jidat sang target karena pernyataan-pernyataannya yang sudah Beyond Comprehensible.

Sedangkan Ahok, Ahok jelas masuk kedalam Repect List saya ketika dia sedang ribut dengan Loe2ng CS perkara UPS. As one foul mouthed guy to another, orang ini lahir bathin saya tepuk tanganin saat dengan beraninya menunjukan bukti-bukti penyelewengan (yoi penyelewengan) yang dilakukan Loe2ng CS dengan tegas, simple, langsung bat bet bat bet gak pake ribet. Dia lawan, dia hajar, tanpa takut tanpa ragu dan dengan istilah Joe Taslim di film Fast and Furious yang somehow dipuji puji GNFI kaya langsung “Hantam Mereka!”. Kayak, YOI BET NI ORANG! Yang lantas menjadi menarik adalah, Loe2ng sekarang masih hidup tenang dan bahagia dan bahkan sempet diwacanakan maju jadi Cagub. Kayak….


Gimana?


Perkara inilah yang kemudian diisukan oleh beberapa orang sebagai bentuk Tabungan Kebaikan. Karena setelahnya yang terdengar dari Ahok adalah kasus gusur menggusur, Rumah Sakit Sumber Waras, Reklamasu dan yang terakhir perkara Ahok dan ayat suci. Sempet muncul foto-foto keberhasilan membersihkan Sungai, tapi ko yaa kalah heboh sama perkara ayat suci. Jelas banget kelihatan kalo emang perkara agama itu jadi dagangan yang paling gampang laku di negara ini.

Yaa emang sih sila pertama kita Ketuhanan Yang Maha Esa, tapi kan habis itu disusul sama Kemanusiaan yang Adil dan Beradab dan Persatuan Indonesia. Harusnya, habis beragama, berTuhan, menjadi manusia yang adil dan beradab dan bersatu sebagai Bangsa Indonesia. Bukan orang Islam yang tinggal di Indonesia, Bukan orang Cina kelahiran Indonesia, Bukan lantas menjadikan Agama sebagai landasan untuk mengelompokan diri dan lantas menjadikan pemecah belah apa yang seharusnya menjadi kekuatan untuk bersatu.

Ih yoi ga sih gw. Kaya mengulik pesan moral Pancasila. Sok yang kaya paling ngerti dalam kehidupan ini.

Menyerang Ahok lewat kekristenannya sebenarnya jelas rendah dan murahan sekali. Lebih rendah dan murahan bahkan jika dibandingkan dengan puisi dangdut Mr. Zon di deklarasi majunya Anies sebagai cagub. Puisi yang somehow bikin mas Uno bahagia sekali kaya lagi nonton stand up comedy. Tapi ko yaa banyak yaa yang melakukannya? Sampe bahkan didukung sama mereka-mereka yang dianggap sebagai tokoh agama. 

Sedangdud dangdudnya puisi Mr.Zon, gak sekalipun lhoo dia bawa bawa isu agama dan rasnya ahok. Dia pake perkara gusur menggusur yang memang adalah salah satu buah karyanya ahok. Yang berarti dia menyerang Ahok, lewat kinerjanya sebagai Gubernur. Altough I’m a hundred percent sure that we all can agree about how it is a low blow. Tapi kaya yang tadi saya bilang, menyerang ahok lewat agamanya jelas lebih rendah dari puisi ini. Masa sih kalian mau lebih rendah dan murahan dari ini? Saya sih No, gatau mas anang.

H for No.

Bagi saya pribadi, Ahok terjun bebas dari repect list saya ketika dia memutuskan untuk maju menjadi Gubernur lewat jalur partai. Apalagi Ahok pertama didukung sama Golkar dibawah naungannya Setya Novanto ga selang beberapa lama setelah dia mengeluarkan statement tidak akan maju tanpa Teman Ahok yang telah berhasil mengumpulkan sejuta KTP yang seharusnya bisa menamatkan riwayat beberapa orang yang mengeluarkan janji-janji politasu terkait bisa atau tidaknya Ahok menembus 1 Juta KTP.

Pertama, dia maju bersama Golkar dan Setya Novanto. S E T Y A NO V A N T O. Kayak gak perlu dijelaskan lagi. Cukup, S E T Y A NO V A N T O. Kedua, dia memangkiri statementnya sendiri, saya tahu bahwa maju independen dipersulit lahir bathin sama orang-orang di DPRD, tapi yaa njuk ngopo? Dengan sejuta KTP yang dimilikinya, bukannya Ahok telah memiliki kartu terpenting dalam perkara pemilu? Yep! The Power of People. Serese-resenya mas mas di DPRD, jumlah mereka gak sebanding sama jumlah masyarakat Jakarta yang jelas simpati sama doi.
.
So, naively speaking, sebodo teing lah sama mas mas DPRD ini, kalo Ahok maju secara independen, dan kemudian menang, akan Epic sekali kemenangannya. Tidak hanya ini benar menunjukan kemenangan rakyat, tapi juga sebagai preseden untuk majunya calon-calon independen berikutnya dan yang terpenting, Ahok menang dengan statusnya sebagai triple minoritas di Jakarta, murni hanya karena dukungan Masyarakatnya. Tapi yaa ini udah kaya di kiss goodbye aja, Ahok udah terlanjur maju lewat jalur partai, dimulai dari Setya Novanto, sekarang Ahok bahkan didukung sama Bu Banteng dan koloninya.

Kebayang gak sih kalo semua orang baik maju secara independen dan menang? Kaya paling ga ada sebagian persen keraguan kita pada pemerintahan yang bisa di-kiss goodbye karena tahu Pemimpinnya gak lagi ditunggangi kepentingan Partai yang tentunya memprioritaskan kepentingan mereka dibandingkan rakyat biar bagaimanapun indahnya kemungkinan sebaliknya dikemas di buku PPKn.

Sayangnya, bukannya kiss goodbye sama kepentingan Partai, kita malah harus kiss goodbye sama majunya orang-orang baik sebagai calon independen. Both Ahok and Anies, now has to compromise their integrity now that they’re in bed with the wolves. Or Bulls if you know what I mean. 


What's wrong with my poo?


Okay, mari kembali ke dua pertanyaan di awal yang menjadi akar permasalahan dari ini semua. Apakah Ahok dan Anies memang haus kekuasaan ataukah mereka sebegitu inginnya berkontribusi. Opsi kedua jelas lebih indah dan bisa membuat tidur kita lebih nyenyak. But realisticly speaking, we’ll never know. It’s just way beyond our control to know which option is true.

Know what is within our control? Us!

Yap! Kalo ada sesuatu yang kita bisa kontrol lahir bathin dengan baik, adalah kita sendiri jawabannya. Jadi, kalo pengen Jakarta lebih baik, kalo pengen Indonesia lebih baik, pengen Dunia lebih baik yaa jadilah orang baik. Paling gak baik buat diri sendiri. Kota yang baik gak semata mata langsung jadi dengan hadirnya pemimpin yang baik karena sejatinya, yang membentuk kota adalah masyarakatnya. Jangan harap Jakarta bisa punya lalu lintas yang ramah kalo trotoar masih dijadikan jalu cepat sepeda motor dan jembatan penyeberangan dipake latihan sama atelit tong setan. Jangan harap Jakarta bisa bebas macet, kalo parkir masih sesuka hati tepuk tangan, berhentiin angkot sekedar mengibaskan tangan di sembarang jalan, dan terus beli mobil dan memenuhi jalan sesuka hati hanya karena gaktau uang mau dipake buat apa lagi.

Sayangnya, calon pemimpin Jakarta bukan Obito yang bisa pake Infinite Tsukuyomi yang bisa memproyeksikan saringannya buat menghipnotis seluruh umat agar berlaku indah dan penuh tata krama. Jadi, kalo mau Jakarta berbenah, kalo mau Jakarta berubah, mulailah dari sesuatu yang bisa kalian kontrol lahir bathin untuk berubah dan berbenah. Yap! Mulailah dari kamu sendiri. Kamu. Iya, Kamu~~  


* saya tahu bahwa selain Ahok dan Anies, ada Agus yang juga mencalonkan diri menjadi Cagub. Tapi saya gatau apa-apa tentang Agus. Jadi saya gaktau mau nulis apa tentang Agus. Satu-satunya isu yang terpikir tentang Agus adalah, kalau sang Bapak pada saat menjadi presiden peninggalan terpopulernya adalah Album yang saya yakin banyak dari kita yang tahu tapi gak pernah dengar, maka kalau Agus menjadi Gubernur, paling tidak dia akan mengeluarkan EP. Jadi saya rasa Agus adalah calon yang tepat untuk kalian yang suka musik. Sekian tentang Agus dari saya. Maaf lahir bathin. 

Thursday, March 3, 2016

RK, Ahok, Risma, LGBT, Dll, Dsb

Abang : Neng,
Eneng : iya bang?
Abang : abang ikhlas
dah neng kalo ridwan kamil jadi gubernur dki asalkan ahok jadi presiden.
Eneng : hmm, kalo eneng sih bang, lebih ikhlas kalo ridwan kamil jadi presiden dan ahok jadi wakilnya.
Abang & Eneng : terus bu risma jadi gubernur dki!
Eneng : ihh ko kita barengan sih bang..... 
Abang : hehehe.. Tapi neng,
Eneng : tapi apa lagi sih bang?
Abang : kayanya abang lebih ikhlas kalo eneng jadi wakilnya deh neng.
Eneng : ha? Yaa calzone bang..
Eneng mah apa atuh, cuma fansnya bang ipul yang selalu ai lop yu pul meskipun dapur kagak ngepul.
Abang : neng..
Eneng : tapi gapapa sih bang, eneng ikhlas ko jadi wakilnya ahok, meskipun si bapak suka marah-marah, tapi parasnya yang imut itu, selalu bikin hati eneng dag dig ser ngeliatnya. Ihihihihihi...
Abang : neng..?
Eneng : tapi jadi wakilnya ridwan kamil juga gpp sih, bapaknya ganteng, khas aa aa bandung kaya aa di warung burjo langganan kita itu bang.. Eneng ikhlas deh meskipun harus jadi yang kedua. Ihihihihihi....
Abang : neng!!
Eneng : !!!!
Abang : dengerin dulu!
Eneng : :((((((((((
Abang : maksud abang.....
Eneng : .....?
Abang : abang lebih ikhlas kalo eneng jadi wakil abang dalam membina rumah tangga kita...
Eneng : ihhhh.... Abang~~~~
Abang & Eneng : <3 span="">

Abang & Eneng Episode 2 : Rakyat bicara politik.

Yep! Ridwan kamil emang udah secara resmi menyatakan ketidak ikut sertaannya dalam PIlkada Gubernur DKI 2017, yang mana adalah hal yang menarik, karena dengan pernyataan ini menunjukan tidak hanya bahwa spekulasi yang berkembang di masyarakat terkait pencalonan Ridwan Kamil menjadi Gubernur DKI adalah benar, tapi juga menunjukan bahwa sebenarnya ada ketertarikan dari Ridwan Kamil sendiri untuk mengisi posisi itu.
“Semua indah pada waktunya” itulah sebelumnya yang selalu dikatakan Ridwan Kamil setiap kali diwawancara terkait isu ini. Dan inilah keindahan itu. Sebuah ketegasan sikap untuk menunaikan tuntas amanah yang diberikan warga bandung padanya, tidak seperti you know who yang gak mikir gak mikir tapi akhirnya you know lah.
Memang seharusnya seperti ini, saya sendiri sebagai orang yang lahir dan dibesarkan di Jakarta meskipun berktp Bekasi merasa heran, kenapa dari sekian banyaknya orang hebat di Jakarta, nama yang beredar menjadi calon gubernur DKI justru orang orang luar Jakarta, yang sesungguhnya tengah mengemban amanat di Kota yang dipimpinannya masing masing?
Trio Senin | Sumber
Apa kita sebegitu kekurangannya pemimpin berkualitas? Apakah kita sebegitu Jakarta-sentrisnya sehingga ketika melihat ada pemimpin hebat di Kota lain, langsung saja kehendak berkata kita bawa saja doi memimpin kota kita? Atau, hanya belajar dari keberhasilan you know who yang sekarang telah menjadi you know lah? Hmm, entahlah, saya rasa cukup tidak adil ketika pemimpin pemimpin berpotensi ini, harus direkrut ke Jakarta untuk menyelesaikan masalah Jakarta sementara kota yang tengah diamanatkan padanya memiliki Hak yang sama untuk dikembangkan dan diselesaikan permasalahannya.
Sedangkan untuk Jakarta sendiri, jika bukan Pak Ahok yang cukup bisa dipercaya meskipun badai bad news guys kian menerpa yang dipercaya melanjutkan amanatnya, selalu ada orang seperti saya yang jelas kejeniusannya yang siap mengemban amanat itu. Saya juga arsitek dan ganteng seperti Ridwan Kamil, tegas dan berdedikasi tinggi seperti Bu Risma, dan tentunya tangguh dan berani seperti pak Ahok. Dan yang terpenting, saat ini saya tidak sedang diamanatkan di kota lain, sehingga tidak perlu ada hati hati para pendukung yang terluka karena ditinggalkan dengan dalih mengemban amanat yang lebih tinggi.

Ah masa? | Sumber

Bicara soal persamaan hak, negara kita yang aduhai ini sedang sibuk dengan isu LGBT. Seru sekali, sebuah negara yang bahkan belum bisa mengakui pernikahan beda agama dan masih sibuk sensor belahan dada sudah berani berani bicara LGBT. Dalam hemat saya, negara ini masih belum jelas mau membawa dirinya kemana, secara prinsip maunya berpegang pada norma dan budaya, tapi kita realistis aja, norma dan budaya yang mana yang dimaksud? Wong kebaya saja yang jelas warisan budaya disensor.
Di sisi lain, mau menyesuaikan diri pada perkembangan jaman yaa masih takut-takut, takut gak sesuai sama nilai norma dan budaya. Sekali lagi, norma dan budaya mana yang dimaksud? Norma budaya timur? Yang mana? Paham saya ko ya norma dan budaya ini nasibnya sama gak jelasnya kaya dsb, dan dll diujung kalimat. Yaa kita sama sama tahu aja, tapi kita juga sama sama tahu aja kalo apa yang kita sama sama tahu aja ini mungkin berbeda maksudnya.
Mungkin saya perlu belajar sejarah lagi seperti nasib seorang penulis yang sejarah versinya terlalu banyak unsur dsb dan dll sehingga menjadi agak anu. Mungkin saya perlu mendalami nilai nilai norma dan budaya nusantara warisan para leluhur bangsa. Atau mungkin saya haurs lebih menjiwai nilai nilai Pancasila sehingga saya bisa lebih menjadi seperti masyarakat teladan yang kerap berbagi link link berita dan informasi di media sosialnya. Mungkin selain sejarah, norma, budaya, dan Pancasila, saya harus belajar hal-hal lain dan sebagainya supaya saya bisa lebih Menjadi Indonesia.

Menjadi Indonesia | Sumber

Kembali ke perkara LGBT, sejujurnya saya yang jenius ini kurang paham apa sebenarnya persamaan hak yang mereka bela. Karena ketika mereka berkata mereka berhak mendapatkan perlindungan, hak berekspresi, menyatakan pendapat,dll,dsb yaa sebenarnya negara sudah menjamin itu karena itu adalah bagian dari hak hak kalian sebagai warga negara. Sekarang apa perlu negara membuat undang udang khusus perlindungan masyarakat LGBT? Bukannya ini malah menyimpang yaa dari keinginan untuk mendapatkan persamaan?
Saya paham, bahwa dalam kenyataannya masih banyak orang orang yang mendiskriminasi kaum LGBT, masih banyak juga penegak hukum yang tutup mata ketika diskriminasi itu dilaporkan atau malah ikut mendiskriminasi dan mencemooh. Tapi ingatlah, bahwa negara sudah menjamin kita semua termasuk kalian para masyarakat LGBT terkait segala bentuk diskriminasi. 
Perkara penerapannya masih banyak kekurangan, yaa mau gimana lagi, sekedar info, bahwa diskriminasi terjadi kepada siapapun terlepas dari preferensi seksual dan gender mereka. Ada orang yang didiskriminasi karena ukuran tubuhnya, karena level kecerdasannya, karena rasnya, karena bapaknya bukan ningrat, karena kakeknya bukan pemilik spbu, karena bajunya gak dicuci dengan deterjen yang bintang iklannya pemain sinetron masa lalu, karena handphonenya masih seri 3 padahal seri 6 udah beredar dengan hanya perubahan minor namun marketing yang aduhai, dll, dsb. Lantas apa setiap bentuk diskriminasi ini harus dibuat udang udangnya? Kasian orang yang kuliah hukum dong nanti bukunya makin tebel. Toleransi lah sama mereka juga. Biar gimanapun juga kan mahasiswa hukum juga manusia. Yang disela sela waktu kuliahnya juga pengen nobar ILC di burjo terdekat.
Diskriminasi ini sebetulnya masalah preferensi dan kekerdilan referensi. Sifatnya orang ke orang, sama kasusnya kaya orang yang suka duren ngatain orang ga suka duren bego. Emang brengsek aja itu orang yang suka duren. Dan ketika berbicara tentang mengedukasi masyarakat, bahwa LGBT bukan penyakit, bukan bahaya, dan masyarakat resisten terhadap itu, yaudahlah… ya emang orang beda beda, masyarakat diedukasi sama hal yang jelas jelas bener kaya harus buang sampah ditempatnya aja susah, apalagi yang masih abu abu kaya LGBT. 

Damn Right | Sumber

Sabar aja bro sis, kalian mungkin mereferensikan negara negara yang sudah mengakui LGBT dengan jalan salah satunya mengakui pernikahan sesame jenis, tapi bahkan di negara negara seperti inipun, diskriminasi terhadap LGBT akan tetap ada. Kenapa? Karena balik lagi, ini masalah preferensi, personal. Sifatnya orang ke orang. Negara mungkin mengakui, tapi apa seluruh masyarakat yang menjadi bagian dari negara lantas juga mengakui? Yaa nggak juga. Coba aja nonton film tangerine dan kalian akan lihat waria yang ditimpuk pake air seni. Pun begitu di negara ini yang belum bisa mengakui, apa lantas semua masyarakat yang menjadi bagian dari negara lantas juga ga mengakui? Yaa nggak juga. Coba aja baca twit twitnya joko anwar yang sangat vocal mendukung lgbt.

Nah, kalo kalian berharap negara ini bisa mengakui, maka kalian delusional kakak… negara ini tuh all about citra coy, apapun yang terjadi, kita akan selalu berlindung dibalik kata tidak sesuai dengan norma dan budaya. Yang penting kalo dipublik ngomong gini biar keliatan konsern sama ini, padahal mah sehari harinya  yaa kita sama sama tahu aja lah.
Duh jadi panjang kan.
Anyway, kita sama sama tahu aja lah yaa apa yang saya maksud mengakui.
Yamon~~

Hubungan Sama Gambarnya Aco | Sumber 

Okay, bad news guys, tulisan saya sudah kepanjangan, tadinya saya mau menulis tentang kegelisahan saya terhadap hal hal anu dan tindak tanduk nganu yang berlindung dibalik nama islam yang sudah lama banget saya mau anuin. Tapi kata ridwan kamil, semua indah pada waktunya. Timbang saya tulis panjang lebar sekalian di sini lalu kalian cuma skiming skiming cantik aja dan miss the point, mending kita tunda saja sampe langit menyampaikan mood menulis saya berikutnya.
Saya tahu tulisan saya menarik, dan kalian akan kecewa pada berakhirnya postingan ini. Dan untuk itu, saya hanya bisa berkata, Bertahanlah. Mengacu pada salah satu warisan budaya kita supaya saya tercitra nusantarais, Jika ada sumur di ladang, boleh kita menumpang mandi, jika ada sumur panjang sampai kita jumpa lagi.
Sungguh kata kata yang indah dan penuh nilai budaya. Tapi realitanya, kalo ada sumur di ladang dan kalian seenaknya numpang mandi, kalian bisa diteriakin maling dan jika beruntung berakhir di bui. Jika tidak, kalian bisa diarak keliling kampung sambil diteriakin penuh diskriminasi, atau jika lebih tidak, kalian bisa berakhir dalam bara api.
Sekian dari saya, nama saya Hendro Prasetyo, principle of Artdicted Studio.
Peace, Love, and Gaul.

Sunday, July 27, 2014

Curhatan Sendal Jepit

“ I always think Ape better. Now I see how much like them we are ”
Caesar – the Ape boss

Hal yang paling menarik dari menonton Dawn of The Planet Apes adalah bagaimana saya sebagai seorang manusia bisa merasa belajar banyak dari para Apes yang dalam film ini sangat sukses memotret kehidupan manusia. Film cerdas yang sangat penting untuk ditonton, untuk mengingatkan kita para manusia, akan sifat kita dari konflik yang terjalin antara manusia dan Ape , manusia dan manusia, serta antar Ape.

Film ini mengingatkan saya bahwa kebaikan dan keburukan akan senantiasa bersanding. Ada manusia dan Ape baik yang menginginkan kedamaian, dan disisi mereka, ada manusia dan Ape brengsek yang membiarkan kebencian membawa mereka pada kehancuran. Pada chaos, dan peperangan yang menelan banyak korban. Dan pada masing-masing mereka, ada Kesombongan ! ketika yang satu merasa lebih baik dari yang lain. Ketika yang satu, merasa lebih ber-Hak dari yang lain.

Salah satu masalah terdasar bagi manusia adalah kita sering kali merasa spesial. Merasa unggul dan paling berhak menguasai bumi dan alam semesta. Padahal seperti yang pernah saya bahas sebelumnya di postingan Arogansi, Evolusi, dan Homo Sapiens, kita ga ada apa-apanya dibandingkan alam semesta. Kita hanya sebungkus campuran kimia yang memiliki ruh. Dibekali dengan akal kecerdasan dan hati nurani, yang sayangnya jarang dimaksimalkan keduanya.

Meh~
Saya mau ngomong apa sih sesungguhnya !

Agak gemes rasanya ngeliat perkembangan sosial media belakangan ini. Rasanya semua orang mendadak jadi pintar. Paling paham politik, paling paham sejarah, paling ahli masa depan. Paling Rakyat Teladan ! cerdas membagikan artikel yang mengkritik pemerintah atau sekedar tokoh tertentu. Lengkap dengan opini panjang lebar sebagai prolog menuju berita yang sarat akan kepalsuan dunia.

Pada saat masih musim Pilpres, semua orang mendadak politis. Paling rajin men-share berita terkait calon idolanya dan berita buruk terkait calon lawannya. Dan ketika KPU telah mengumumkan hasilnya, beberapa diantaranya masih larut dalam arus lama dan masih bersikukuh ingin bertarung opini dengan fanboy lainnya. Para pendukung calon yang kalah bersikukuh akan adanya kecurangan. Para pendukung calon yang menang, sibuk mem-bully calon lawan yang seakan tidak mampu berbesar hati menerima kekalahan.

Buat kalian yang sudah menang, berbesar hatilah. Angkat dagu, busungkan dada, dan pandang lawan dengan mata yang hanya terbuka setengah. Kalian telah menang ! anggaplah lawan kalian itu seperti kecoak yang terperangkap dalam lingkaran kapur ajaib. Panik ! sibuk melakukan berbagai cara untuk bertahan, padahal akhirnya akan kalah juga. Kalian tidak perlu melakukan apa-apa lagi. Diam, tenang, dan sekali lagi, nikmati kemenangan.

Kemudian ada berita duka dari Gaza. Dan lalu semua orang mendadak paling muslim. Paling menjunjung solidaritas antar muslim. Entahlah, tapi saya merasa agak janggal, ketika di satu poin kalian menunjukan solidaritas kalian dengan membagikan postingan atau artikel terkait dengan gaza, dan di poin lainnya kalian men-share kemewahan foto makan malam kalian. Ketika kalian di satu poin merasa iba dan sedih akan keadaan di gaza, lalu menghabiskan malam kalian berbalut kenikmatan berbuka bersama dengan para relasi di restoran favorit dan menshare fotonya dengan akun yang sama.

I don’t know, maybe you think “at least I did something”. Well, what’s the point of that least thing you did ?

Baru aja kemarin ada isu terkait penggunaan pakain muslim di sekolah. Dan kembali bermunculanlah manusia-manusia cerdas pengkritik pemerintah. Tanpa terlebih dahulu mepelajari sumber beritanya, munculah berita ini bersliweran di sosial media, lengkap dengan bumbu-bumbu opini cerdas khas rakyat teladan Indonesia.

Hendak saya tendangi rasanya manusia-manusia ini. Ahok baru akan menjabat resmi sudah gusar dengan berita kebijakan palsu yang disebar untuk memprovokasi. Buat kalian yang khawatir Ahok jadi gubernur, saya cuma mau bilang, “ kampret rasis lo sialan ! segitu takutnya dipimpin sama Cina Kristen ? ”

Fiuh~~
Untung puasa, jadi saya agak menahan diri.

Curhatan sandal jepit oleh warga Negara sandal jepit. Entah apa salahnya sandal jepit sampe harus disamain sama Indonesia. Satu-satunya Negara di dunia yang ada dua calon presiden deklarasi kemenangan di media yang jelas keberpihakannya. Well, lebih tepatnya satu pasangan calon, dan satu ibu-ibu entah siapanya pasangan calon. Ibu-ibu yang kata bapaknya temen saya lebih cocok jualan pecel di madiun ketimbang ngurusin Negara.

Indonesia, Negara agraris tapi import beras, Negara maritim tapi import garem, Negara ramah-tamah tapi banyak preman dimana-mana, Negara merdeka tapi aset berharga dikuasai asing dan mafia.

Hhh! Sendal jepit !


Untung YKS udah ga ada. 

Gini yaa guys, kalau kalian mau berkontribusi buat Indonesia, caranya sederhana kok. Jadilah warga negara yang baik. Buang sampah ditempatnya, berkendara secara sopan dan considerate, kalo punya mobil pribadi jangan isi pake premium, kalo di kereta jangan gosip, sekolah yang pinter, jangan suka metik bunga dan daun, kalo udah kerja dan punya penghasilan daftarin NPWP. 

Sekian.
Selamat Idul Fitri, sekedar info Minal Aidin wal Faidzin artinya Dari yang Menang dan yang Kembali. Ga ada unsur minta maafnya sama sekali. 

Thursday, May 29, 2014

Prabowow vs Jokowow

“An epic confrontation between a Knight in bloody Armor, with a super shiny Angel.”

Prabowow Vs Jokowow, A Knight versus An Angel, that’s how I picture our upcoming President Election.

Ilustrasi Modifikasi dari sini


A strong, fierce, bold man, with dark past, known as an ex militant accused of several abductions, murders, and even massacre, a true Knight in Bloody Armor, ready to do and fight anything for the sake of his country. That’s how I think of Prabowow. That much blood in his Armor , depict how hard he has fought for his country. It may seem awful, but in the other hand, it also shows how dedicated he is in doing what he is assigned to.

Ilustrasi Modifikasi dari sini


Confronting in another side, we have Jokowow, A good, flawless human being who is famous for his well-being with his people. A super shiny Angel, it shines so badly, we hardly see what beneath. He seem so perfect, but behind that arise a mystery, is he true ? or is it just a perfect series of Acts he plays perfectly ?  His flying seems so assuring, we are captured by his magic, but behind every magic there is a trick, we can’t see it, but maybe he is just a performer pulled by invisible strings. A super shiny Angel, seems really promising, but truth is, he is a mystery that only time will tell. That’s how I think of Jokowow.

Now, who will you believe ?

Bicara pemilu tahun ini, ga bisa lepas dari parahnya Black Campaign dan perang antar Fanboy dari kedua belah pihak. Kemudahan akses internet dan berkembangnya berbagai social media membuat orang-orang yang ga bertanggung jawab dengan mudahnya melempar isu yang kemudian dibesarkan oleh orang-orang yang kurang cerdas untuk mengetahui bahwa mereka tengah dikendalikan untuk menjadi agen distributor kepalsuan.

Agak aneh rasanya, bagi saya yang sangat jarang mengakes televisi, dan jauh dari ibu kota, kampanye seperti visi-misi dan hal-hal lain yang seharusnya dipaparkan oleh para calon presiden malah seperti kalah diberitakan dan dibesarkan dibanding isu-isu serta keburukan para calon. Hampir setiap hari, saya melihat di lini-masa facebook saya (yaa, saya masih setia dengan facebook, masalah ?) , berbagai bentuk black campaign yang menjatuhkan calon-calon yang ada. Sementara untuk mencari visi-misi dan rencana kedua calon, saya harus mendalami google terlebih dahulu. Ini seperti black campaign lebih utama dibandingkan campaign itu sendiri.

Nah, untuk teman-teman yang pernah men-share info-info semacam itu melalui social media, silahkan mempertimbangkan lagi untuk melakukannya di masa yang akan datang. Kalau memang kalian mendukung salah satu calon, atau belum mantap menentukan pilihan, sebarkanlah info-info yang memang official disampaikan oleh para calon melalui media resmi mereka. Sehingga kalian tidak menjadi bagian dari tersebarnya isu-isu yang justru membuat kita semakin ragu akan Negara ini.

“I know that in journalistic there is a term that says, Bad News is Good News, but as Rob Burgundy thinks in Anchorman, telling the news we want to hear, is as important as telling the news we have to hear.”

Kita perlu untuk optimis terhadap negri ini. And Good News is Good News. Daripada kalian repot-repot menjatuhkan salah satau atau kedua belah calon, apakah tidak lebih baik kalian menginformasikan apa yang telah berhasil dilakukan para calon untuk Negara ini ?

Anyway, let’s go back to what this post is more about.

Prabowow. Secara pribadi saya menganggap Prabowow adalah salah satu kandidat yang baik untuk menjadi presiden Indonesia. Ketegasan dan Keberaninannya jelas dibutuhkan Indonesia yang memang sedang dalam kondisi semrawut dan terjajah. Ada 200 juta lebih orang Indonesia yang kebanyakan sangat sulit diatur.

Dalam konteks inilah, ketegasan Prabowow jelas dibutuhkan. Yang mungkin akan mengkhawatirkan adalah adanya kemungkinan munculnya rezim baru, mengingat latar belakang yang dituduhkan padanya. Tapi yaa, saya rasa apapun itu, ketegasan mutlak diperlukan, terutama untuk masyarakat dan pemerintah Indonesia yang kebanyakan Bandel luar biasa !

Selain tegas, dari berbagai kesempatan, tercitrakan seorang Prabowow yang pemberani. Dan salah satau poin utama yang dibawakan dalam kampanyenya adalah untuk membebaskan Indonesia dari penjajahan asing dan mengembalikan aset SDA yang memang milik orang Indonesia kepada orang Indonesia.

Dalam hal ini, saya sangat sependapat dengan Prabowow. Kenapa kita harus takut dengan Negara lain ? kenapa kita harus tergantung sama mereka ? kita punya sumber daya alam dan sumber daya manusia yang melimpah. Kalau itu semua bisa dikelola dengan baik, Indonesia bisa berhenti menjadi Negara yang tergantung dengan Negara lain, dan malah menjadi Negara yang menjadi ketergantungan Negara lain.

Jokowow. Seorang pemimpin yang sangat merakyat. Bahkan dalam beberapa hal, terlihat lebih rakyat daripada rakyat itu sendiri. Jelas merupakan sosok pemimpin idaman yang dekat dengan masyarkatnya. Tapi secara pribadi, saya sangat menyayangkan keputusan Jokowow untuk maju dalam pilpres kali ini. Bukan hanya dia melanggar janjinya pada Jakarta, tetapi juga memunculkan cela pada citra yang selama ini ia bangun. Kalau saja ia muncul 5 tahun lagi setelah berhasil membenarhi Jakarta, saya yakin bahwa tanpa ragu seluruh masyarakat akan mendukung jalannya menjadi presiden.

Entah apa yang dipikirkannya atau mereka yang mungkin berada dibelakangnya, yang jelas sekarang Jokowow sudah maju sebagai calon, dan jika sejalan dengan survey-survey yang telah ada, besar kemungkinan akan menanggalkan status calonnya dan menjadi presiden Indonesia berikutnya.

Anyway, dengan mengesampingkan isu bahwa ia dikendalikan oleh partai atau bahkan lebih parah iluminati, saya melihat Jokowow juga sebagai seorang yang tegas dan berpendirian kuat. Ini terbukti dari wawancara-wawancara yang selama ini dilakukan. Pada saat ia masih menjadi Gubernur DKI Jakarta dan ditanya wartawan terkait rencana menjadi presiden, ia selalu menjawab “Ga mikir, ga Mikir…”, kekeh dengan jawaban itu meskipun sudah 1276 kali ditanya. Pun begitu saat ia sudah menjadi capres dan ditanya siapa cawapresnya, ia selalu menjawab “Tunggu, sekarang masih digodok, nanti aka nada saatnya saya umumkan”.

Jokowow jelas juga merupakan seorang yang loyal, hal ini terbukti pada bagiaman ia mendedikasikan dirinya sebagai kader partai. Yang harus dikhawatirkan adalah, bagaimana jika nantinya ada keputusan partai yang berseberangan dengan kepentingan rakyat ? apakah ia akan memilih setia pada partai ? atau pada rakyat ? karena tidak bisa dipungkiri, bahwa parpol, sebagaimanapun mereka menyampaikan keberpihakan pada rakyat, mereka pasti lebih berpihak pada kepentingan partai mereka sendiri.

Tegas, dan Loyal, bukan kedua hal itulah yang menurut saya merupakan kekuatan utama seorang Jokowow. Cerdas ! itulah yang saya lihat menjadi kekuatan utamanya. Lagi-lagi dari wawancara-wawancara yang selama ini telah dilakukan, saya melihat Jokowow selalu berhasil menjawab pertanyaan dengan baik, meskipun banyak diantaranya juga merupakan jawaban evasive dan didahului dengan banyak “aaaaaa….”, tapi dari jawaban-jawaban itu, tidak bisa dikritisi lebih lanjut karena memang merupakan jawaban yang tepat.

Sebenarnya, saya masih mau bicara lebih banyak tentang kedua calon, salah satunya terkait dengan cover Tempo 7 April 2014 yang ramai dibicarakan belakangan ini. Cover yang sangat cerdas, menarik, dan intriguing, menurut saya. Tapi apa boleh dikata, ruang ini telah terlalu penuh akan kata-kata, sehingga saya harus mengurungkan niat saya untuk yang satu ini demi kepentingan bersama. Anyway, saya sangat merekomendasikan kalian untuk mencari tahu terkait Cover ini di berbagi media. Hanya saja, sebaiknya tidak terlalu terpengaruh dengan opini yang berkembang, dan berpegang pada fakta yang ada.

Fiuhhh~~

“Siapapun pemimpinnya, maju atau tidaknya Indonesia, ada ditangan kita, bukan mereka”

Jokowow atau Prabowow, sehebat apapun hanyalah seorang manusia. Sehebat apapun rencana kerja yang mereka buat, tidak akan berhasil memajukan Negara ini jika tanpa kerja sama kita. Kalau kalian ingin Indonesia menjadi lebih baik, jadilah individu yang lebih baik. Jadilah Individu yang lebih cerdas, dan berkontribusilah pada Negara ini. Lakukan apapun yang terbaik kalian bisa lakukan di bidang yang kalian minati atau kuasai paling baik. Jangan hanya menjadi warga Negara, tapi jadilah bagian dari Negara.


If you want some changes, start with the Man in the Mirror. Start with You ! Quit being a whinny little bitch who can only complaining about his/her country and contribute instead ! My name is Hendro Prasetyo, the principle of Artdicted Studio, I am not a people of Indonesia, I am part of Indonesia !

Wednesday, October 16, 2013

Idul Adha and Another Side of the Story

Setiap kali Idul Adha selalu dibahas kisah pengorbanan nabi Ibrahim dan nabi Ismail. Pernah ga sih kepikiran pengorbanan yang dilakukan Sapi ?

Yang selalu diangkat adalah isu berbagi. Gimana si kaya, berbagi kenikmatan makan daging sama si miskin. Pernah ga sih kepikiran berbagi sama Alam ?

Sapi adalah bagian dari alam. Setiap Idul adha diman-man ada adegan penyembelihan yang jadi tontonan. Seakan - akan cuma pas Idul Adha aja ada Sapi dipotong. Padahal kan setiap hari ada Sapi dipotong. Dan itu berarti setiap hari juga alam berqurban buat kita.

Pernah kepikir begitu ?

Setiap hari McD buka, ada juga KFC, WS, sampe ke level Olive dan Mr.Burger. Ada juga warung sate muali sekelas Samirono sampe level Cak Amat. Daging segitu banyak kebayang ga sih sapinya darimana ?

Itu baru masalah hewan ternak, yang emang dari lahir dibesarin cuma buat dimakan. Kepikir ga Ikan di laut yang dipancing, dijaring, dan bahkan sampe di Bom ? Kepikir juga masalah Hutan yang terus dibabat buat diambil kayunya ? dijarah lahannya dan dijadiin sawah. Sawah yang terus dirajah dan dibangun rumah-rumah.

Dirumah kalian banyak semut yang gajelas muncul darimana ? di kamar mandinya kadang ada cacing keluar dari sela-sela ubin ? Atau kalian yang mungkin hidup di pedalaman pernah ada ular dan bahkan harimau masuk rumah ?

Salah siapa ?

Umumnya orang akan menyalahkan si hewan, padahal itu salah kita. Manusia. Semabarang ngebangun rumah. Tanah itu kan dari dulu emang udah rumahnya si cacing, markasnya si semut, jalur sirkulasinya si ular, dan tempat cari makannya si harimau. Mereka duluan disiti dan kita Manusia seenaknya mengakuisisi.

Alam itu udah banyak banget berqurban buat kita. Tapi kita diajarinnya berqurban buat sesama manusia terus. Padahal kalo dipikir apa sih yang udah dilakuin sesama manusia itu sama kita ? bandingin coba sama jasa dan pengorbanan Alam.

Pernah ga sih kepikir udah berbuat apa sama Alam ? Pernah berqurban apa buat Alam ?

Selayaknya sebuah kisah, selalu ada dua atau lebih sisi untuk ngelihatnya, Sisi yang sengaja disorot diekspos dan tampil secara vulgar, sama sisi yang butuh sedikit usaha dan mikir buat ngelihatnya.

Kasus Idul Adha ini cuma sekedar contoh aja. Kenyataannya banyak banget kasus-kasus pengalihan isu dan mind-setting yang ada di kehidupan yang punya kemungkinan tanpa batas ini.

Manusia itu sering banget dijebak paradigma. Secara ga sadar hidupnya dikontrol mulai dari pikiran, tindakan, sampe kebiasaan. Manusia itu sering banget kejebak isu. percaya gitu aja sama apa yang disebarin orang dan atau media tanpa sebelumnya nge-kroscek dulu secara keseluruhan.

Coba cek ke kaca terus tanya sama yang dikaca " Lo gw bukan Sih ? "

Dimana-dimana digembor-gemborin istilah "Be Yourself"

Ketek !

Be Yourself apaan.. gaya rambut ngikutin tren, gaya bicara ngikutin idola, gaya berpakaian ngikutin artis, gaya berpikir ga punya gaya.

Coba dipikir, apa kalian  asih memegang mimpi dan cita-cita kalian ? Atau buat kalian sekarang yang penting sukses dalam artian kaya, kerjaan jelas, dan gaji gede ?

kalo sekedar itu sukses buat kalian, maka kalian udah jadi korban paradigma dan sistem pendidikan yang berkembang di masayarakat.

Kalian sekolah bukan buat nyari ilmu, tapi nyari nilai. Kulaih bukan buat ngedalemin ilmu sesuai minat dan potensi, tapi sekedar nyari gelar paska kelar skripsi. Dan terus kalian cari kerja, apa aja yang penting gajinya cukup buat biayain hidup. Sukur-sukur kalo dapet gaji gede biar bisa diakuin sama society.

Sekali lagi coba cek semua yang pernah diajarin ke kalian. Coba agak mikir atau mikir banget dan cari perspektif lain dari apa yang pernah diajarin. Faktanya di bumi ini ada 7 Miliar lebih manusia dan usia kehidupan pasca masehi udah 2013 tahun. Artinya ada banyak banget ajaran yang udah diturunin. Baik sekedar pemukiran sampe ke pola perbuatan.

Kalau kalian mau jadi 1 diantara 7 Miliar, saran saya sederhana. Cek lagi semuanya, dan coba untuk ga terjebak sama apa yang udah ada.