Saturday, June 18, 2016

Saya Hendro Prasetyo, dan Saya Seorang Muslim.

Saya seorang muslim, dan saya tinggal di Bali sudah selama lebih dari dua tahun. Dan dalam periode ini, sudah tiga kali saya merasakan Nyepi di Bali.

Belakangan ini, dunia sekitar seakan sibuk dengan perihal hormat-menghormati. Mungkin ini akibat pelajaran PPKn yang selama bertahun tahun konsep ajarannya berpusat pada ini, sehingga kemudian menjadi begitu melekat di hati. yap, antara hormat-menghormati dan menolong nenek-nenek menyeberang jalan hanya itu dan manakah dar 4 jawaban berikut yang terkategori sifat terpuji.

Tolong Nenek Cuuuk | Sumber

Bulan Ramadhan sudah berjalan 14 hari, bukan gaung takbir dan tilawah yang terdengar merdu dan syahdu, kita malah sibuk meributkan perkara jualan makanan di siang hari. Mereka bilang ini tidak menghormati orang yang berpuasa, lalu dibalas, mestinya orang yang berpuasa yang menghormati orang tidak berpuasa. Bagi saya, kedua belah pihak yang minta dihormati ini tidak ada yang layak dihormati. Tidak karena rasa hormat tidak bisa semata-mata diberikan, tapi harus secara pantas diterima.

Bercandanya alam semesta adalah kemudian, alih-alih menyelesaikan masalah, sebagian dari mereka justru membalas dengan membawa-bawa larangan berdagang hari minggu di Papua dan Nyepi. Saya tidak tahu dengan Papua, tapi saya tahu bagaimana rasanya Nyepi, dan bagaimana konsep berpikir manusia-manusia upil ini begitu dangkal selayaknya upil yang menempel di permukaan lubang hidung.

Sejujurnya saya tidak terlalu suka Nyepi karena pada saat Nyepi kita tidak diperbolehkan menyalakan lampu dan saya tidak suka gelap (takut). Tapi saya sangat suka nyepi karena nyepi memberikan ketenangan. Saya sangat suka Nyepi karena sehari sebelum Nyepi, supermarket begitu ramai seakan besok ada serangan Zombie, carefuour pun mengadakan program Bu Lela, karena mereka begitu care seperti namanya.

Pada saat nyepi, tanpa harus memejamkan mata pun, yang bisa kita lihat hanya kegelapan, begitu gelap sampai kita tidak bisa melihat diri sendiri sehingga seakan akan kita hanya bagian dari alam semesta yang tidak bermaterial. Pada saat nyepi, langit bebas berekspresi, dan bintang bintang yang sering bersembunyi dan berbagi ruang dengan lampu duniawi menampakan diri seakan meminta difoto dengan teknik Bulp supaya terlihat sebagai bagian dari galaksi.

Dan yang paling saya suka dari Nyepi adalah libur dengan tingkat kepanjangan sedang selama 3 hari yang turut serta kantor tempat saya bekerja jalani. Hidup indah dengan Kasur dan series menemani hari hari.

I love you too | Sumber

Lalu manusia-manusia upil ini bilang, harusnya orang-orang yang Nyepi menghargai orang-orang yang tidak Nyepi. Dengan semangat berbalas pantun, malah mereka membuat meme dengan membawa-bawa penyelenggaraan tablig akbar pada saat nyepi. Mereka, manusia-manusia upil ini membawa-bawa dan mengatas namakan agama saya, agama kami, agama kita, agama yang sangat besar ke dalam pemikiran-pemikiran yang begitu kerdil, kecil seperti upil. Sungguh manusia-manusia upil ini perlu belajar makna sebenernya dari toleransi.  

Ciyeee Toleransiii…..

Menurut saya toleransi dan saling menghormati ini adalah akar dari permasalahan ini. Kata toleransi dan saling menghormati sebenernya malah meng-emphasis, meng-highlight bahwa kita berbeda. Golongan ini harus menghormati golongan itu, ritual saya harus dihormati, kamu harus memberikan toleransi kepada saya yang tidak menjalankan ritual kamu.

Upil!

Upil lahir bathin!

Mungkin karena pada saat kecil kita sering bermain temukan lima perbedaan sehingga kita menjadi manusia manusia yang senang mencari perbedaan. Sedangkan urusan persamaan, adanya hanya di matematika, yang mana banyak dari kita yang benci. Yaudah jadilah hidup begini. Pakelah kita semboyan berbeda-beda tetap satu jua. Yaudah aja sih kita gausah mikirin perbedaan. Kita kan sama sama manusia yang hidup di bumi. Sekian. Sama. Manusia. The end. Udah aja gitu emang gabisa.

Coba nih yaa, bayangkan kalo ga ada kata toleransi, kita ga ada tuntutan menjadi makhluk sosial yang harus ngurusin kehidupan orang lain. Jadilah kita manusia-manusia individualis yang hidup dalam dunianya sendiri. mau puasa yaa puasa aja, mau ada orang yang gak puasa ya bodo, mau ada warung yang buka pas puasa ya bodo, mau kemudian warung ini kena razia yaa bodo, mau kemudian ada donasi yaa bodo, mau suaminya bandar judi yaa bodo, mau ibu ini ternyata istri simpanannya raja minyak kelapa sawit cap badak yaa bodo. Maka segala bodo-ception ini sejatinya akan menimbulkan ketenangan. Dan bukankah ini akan lebih kondusif untuk beribadah?

Yaa tapi gabisa. Makanya saya sampai nulis seperti ini. Karena kita udah terlanjur jadi manusia yang ga bisa masa bodo. Berapa kalipun kita terlatih dalam permainan da di do kena masa bodo, kalo kena yaa kita minta maaf. Karena kita adalah bangsa yang santun, bangsa yang ramah tamah, sehingga ketika kita melukai perasaan orang lain kita harus minta maaf. Yaa emang ga sih cuk? Paan dah lo.

Salah satu tempat tertenang yang pernah saya ada, adalah di dalam MRT singapura, padahal begitu banyak orang. Tahu kenapa? Karena mereka tenang (sibuk) dengan dunianya sendiri. Beruntung saya pernah mengenal ucup, karena ucup mengajarkan saya ketenangan (males(bodo amat)). 

Dunia yang seperti ini memang hambar, jemu dan tanpa kehidupan, tapi bukankah ini lebih baik ketimbang selalu ribut perkara hal yang sebenernya gak perlu diributkan kalo semua orang mind their own business. Udah ajalah kalo emang pengen perang, peranglah kalian di COC atau marvel avengers alliance.

Calm | Sumber

Saya seorang muslim, dan saya heran kenapa begitu banyak muncul di timeline saya tentang muslim yang begitu pemusuh. Muslim anti liberal, muslim anti komunis, muslim anti syiah, muslim anti yahudi, muslim anti kafir, muslim anti amerika, muslim anti sekuler, muslim anti sekuler-kafir-komunis-yahudi amerika, muslim anti dll, muslim anti dsb. Sibuk sekali para muslim ini memusuhi mereka yang tidak sejalan dengan ajaran yang mereka percayai. Beda sedikit musuhi, beda sedikit anti-I, beda sedikit syiah-I, beda sedikit liberali-I, beda banyak perangi, salah banyak kafir-i. Aneh ketika agama yang seharusnya menjadi rahmat bagi alam semesta malah menjadi agama yang memusuhi sebagian lain dari alam semesta yang tidak sejalan dengannya.

Saya juga muslim, saya sholat 5 waktu, saya berpuasa di bulan Ramadhan, saya menunaikan zakat, dan sudah tidak terhitung berapa kali sudah saya mengucapkan syahadat. Saya yakin betul bahwa Allah SWT adalah Tuhan saya dan Nabi Muhammad SAW adalah rasul saya. Saya yakin betul bahwa agama saya adalah agama yang Agung, agama yang besar yang sebenernya adalah terjemahan dari Agung, agama yang benar-benar Rahmatan lil alamin. Rahmat bagi alam semesta, agama yang bisa menebarkan kasih sayang, agama yang bisa membuat kehidupan menjadi lebih tenang.

Tapi yang tercitra sekarang justru sebaliknya, dan anehnya, ini bukan karena orang-orang yang tidak taat pada agamanya. Anehnya bagi agama Islam adalah, namanya justru menjadi cela karena orang—orang yang merasa taat, tercitra taat, dan melakukan hal-hal yang cela dengan mengatas namakan ketaatanya. Orang-orang yang mengelompokan diri sebagai Pembela Islam, sebagai penegak syariat Islam, sebagai orang-orang yang memiliki misi mengembalikan kemurnian agama.

Pertanyaannya adalah, Memangnya agama perlu dibela? Memangnya Tuhan perlu dibela? Tuhan yang menciptakan kita, Tuhan memiliki kuasa untuk menghidupkan dan mematikan kita beserta seluruh alam semesta, lantas pada bagian manakah Tuhan perlu dibela? Jika Tuhan berkehendak, seluruh yang mencela namanya bisa dibinasakan dalam sekejap, lantas pada bagian manakah Tuhan perlu dibela?

Pertanyaan berikutnya adalah, kenapa sih harus membenci dan memusuhi? Janganlah sampai kita menjadi seperti sasuke yang karena kebenciannya pada itachi, membuatnya menjadi ninja yang dingin, penyendiri, dan berambut ala kangen band dengan mata seribet simbol ujian fisika padahal semua itu sebenernya adalah semu dan ilusi atas kasih sayang itachi belaka.

Jan suka membenci

Bagi saya, perkara beragama itu sederhana, perkara membela agama pun begitu. Jika kalian muslim, jadilah Muslim yang baik. Muslim yang benar-benar menjalankan ibadah secara utuh dan sepenuhnya, muslim yang memahami betul agamanya dan menjalankannya dengan sebaik-baiknya. Jadilah seorang Muslim yang benar-benar bisa membuat Islam sebagai rahmat bagi alam semesta. Jadiliah individu yang baik, yang bisa menjadi contoh, yang bisa disayangi, dicintai, dan yaa, dihormati oleh orang-orang disekitarnya. Jagalah nama baik Islam dengan menjadi muslim yang baik, dengan begitu kalian sudah membela agama kalian.

Setiap dari kita, seorang muslim, adalah ambassador bagi agama kita, terutama bagi kita yang sudah menampakan identitas kemusliman kita hingga ke permukaan, apapun yang kita lakukan dengan mengatas namakan islam adalah apa yang akan menjadi variable perhitungan atas nama baik Islam di mata dunia.

Waduuh puanjaaang nih cuuukkkkk….!

Sekali lagi, saya seorang Muslim, mungkin tingkat ketaatan saya masih jauh dibawah mereka yang dengan sorban dan gamis putihnya meneriakan takbir sambil mengangkat tongkat bambunya, mungkin tingkat ketaatan saya masih jauh dibawah mereka yang berbonceng tiga mengusung-usung bendera menuju Tablig Akbar dengan parfum tanpa alkohol mereka, mungkin saya tidak pantas berbicara bagaimana membela Islam yang benar sedangkan ibadah saya masih sekedar ritual belaka.

Segalanya mungkin, tapi saya tahu pasti satu hal. Bahwa segala bentuk penindasan, kekerasan, aniaya, pemukulan, tekanan, boikot, terror, eksekusi, bom bunuh diri, dan perang yang mengatas namakan Islam, tidak akan membuat Islam menjadi agama yang disegani, apalagi dihormati. Tidak akan membuat nama Islam menjadi lebih baik, dan tidak akan membantu saudara-saudara sesama muslim di seluruh dunia.

As cliché as it is, a Christian American friend of mine once say, that religion, God, is about Love.

Saya Hendro Prasetyo, principle of Artdicted Studio. I’m a proud Muslim, and I urge you all muslims all over the world to spread love, because that’s what this world needs, and that’s one way to become rahmatan lil alamin.


Drop mic.

No comments:

Post a Comment