Wednesday, October 12, 2016

Ahok, Anies, Pria Satunya Lagi dan Kamu.

“Bercanda alam semesta adalah ketika Tuhan membuat secuil alam semesta kembali mengingat sebuah Kitab Suci melalui mulut liar seorang yang digadang-gadang sebagai musuh golongan yang dianugerahkannya oleh secuil dari cuilan alam semesta.”

Halah ribet cuk! Mau bilang orang Islam kembali inget Al-quran lewat mulut seorang Cina Kristen aja harus pake algorithm yang ribet gitu. Kerasa banget Indonesianya. Sopan, santun, berusaha untuk tercitra baik dan teladan masyarakat serta menghindari konflik melalui pemilihan kata-kata yang dirasa tidak akan melukai pihak tertentu. Pft… upil. Padahal mah aslinya…. Ah SUdahlah lah yes.

“Ahok jangan melecehkan Naruto!”

Dari segala pernyataan yang beredar liar seperti burung gereja di musim kemarau yang e’enya ngotorin mobil sesuka hati tepuk tangan, adalah statement dari seorang Sandro Dwi Armanda yang paling mengena buat saya terkait Ahok dan pidatonya yang dirasa mencederai ketenangan bathin sejumlah orang. Simple, tegas, satir, lugas, jujur, indah dan bersahaja.  Seandainya semua orang bisa mengemas kegelisahannya seperti ini, sungguh isu apapun yang beredar di masyarakat, akan indah rasanya lini masa saya. Apalagi karena segala bentuk selfie, groufie, dan kegundahan hati telah resmi saya “Hide Post” atau Unsubscribe setelah beberapa strike sebelumnya.


Enough is Enough ~~~

Mengulik tentang Ahok dan Anies Baswedan yang akhirnya maju Pilkada DKI Jakarta 2017 lewat jalur parta indahnya dimulai dari mepertanyakan apakah :
  1. Ahok dan Anies Baswedan memang haus kekuasaan sehingga rela mengkubangkan dirinya bersama sekelompok orang yang rekam jejaknya jelas tak seindah cinta yang lalu.
  2. Ahok dan Anies Baswedan memang sebegitu inginnya berkontribusi pada Jakarta, Indonesia, dan Masyarkat sehingga rela mengkubangkan dirinya bersama sekelompok orang yang rekam jejaknya jelas tak seindah cinta yang lalu.
Jika memang jawabannya adalah yang pertama maka pertanyaan lanjutannya adalah : Jikapun memang haus kekuasaan apakah masalah jika pada akhirnya mereka benar-benar bisa berkontribusi pada Jakarta, Indonesia dan Masyarakat dan membawa Jakarta ke arah yang lebih baik?


Hmmm


Ahok dan Anies biar bagaimanapun adalah dua dari sedikit sekali orang yang saya respect terutama di kalangan pemerintahan. Beyond that even. As a person. In compared to the rest of people in the world.

Bahkan sebelum Anies Baswedan menjadi Menteri Pendidikan, orang ini sudah masuk ke dalam radar saya lewat perannya mencetuskan program Indonesia Mengajar dan keinginannya menjadi Presiden lewat jalur Konvensi Partai Demokrat yang dari awal sudah jelas nasibnya akan seperti apa. Lewat Mata Najwa juga saya pernah melihat betapa Anies termasuk dari sedikit sekali orang Indonesia yang ketika berbicara saya mau dengarkan secara utuh tanpa mengernyitkan dahi, tertawa geli karena miris, atau keinginan untuk melempar remote dengan harapan menembus TV dan mengenai jidat sang target karena pernyataan-pernyataannya yang sudah Beyond Comprehensible.

Sedangkan Ahok, Ahok jelas masuk kedalam Repect List saya ketika dia sedang ribut dengan Loe2ng CS perkara UPS. As one foul mouthed guy to another, orang ini lahir bathin saya tepuk tanganin saat dengan beraninya menunjukan bukti-bukti penyelewengan (yoi penyelewengan) yang dilakukan Loe2ng CS dengan tegas, simple, langsung bat bet bat bet gak pake ribet. Dia lawan, dia hajar, tanpa takut tanpa ragu dan dengan istilah Joe Taslim di film Fast and Furious yang somehow dipuji puji GNFI kaya langsung “Hantam Mereka!”. Kayak, YOI BET NI ORANG! Yang lantas menjadi menarik adalah, Loe2ng sekarang masih hidup tenang dan bahagia dan bahkan sempet diwacanakan maju jadi Cagub. Kayak….


Gimana?


Perkara inilah yang kemudian diisukan oleh beberapa orang sebagai bentuk Tabungan Kebaikan. Karena setelahnya yang terdengar dari Ahok adalah kasus gusur menggusur, Rumah Sakit Sumber Waras, Reklamasu dan yang terakhir perkara Ahok dan ayat suci. Sempet muncul foto-foto keberhasilan membersihkan Sungai, tapi ko yaa kalah heboh sama perkara ayat suci. Jelas banget kelihatan kalo emang perkara agama itu jadi dagangan yang paling gampang laku di negara ini.

Yaa emang sih sila pertama kita Ketuhanan Yang Maha Esa, tapi kan habis itu disusul sama Kemanusiaan yang Adil dan Beradab dan Persatuan Indonesia. Harusnya, habis beragama, berTuhan, menjadi manusia yang adil dan beradab dan bersatu sebagai Bangsa Indonesia. Bukan orang Islam yang tinggal di Indonesia, Bukan orang Cina kelahiran Indonesia, Bukan lantas menjadikan Agama sebagai landasan untuk mengelompokan diri dan lantas menjadikan pemecah belah apa yang seharusnya menjadi kekuatan untuk bersatu.

Ih yoi ga sih gw. Kaya mengulik pesan moral Pancasila. Sok yang kaya paling ngerti dalam kehidupan ini.

Menyerang Ahok lewat kekristenannya sebenarnya jelas rendah dan murahan sekali. Lebih rendah dan murahan bahkan jika dibandingkan dengan puisi dangdut Mr. Zon di deklarasi majunya Anies sebagai cagub. Puisi yang somehow bikin mas Uno bahagia sekali kaya lagi nonton stand up comedy. Tapi ko yaa banyak yaa yang melakukannya? Sampe bahkan didukung sama mereka-mereka yang dianggap sebagai tokoh agama. 

Sedangdud dangdudnya puisi Mr.Zon, gak sekalipun lhoo dia bawa bawa isu agama dan rasnya ahok. Dia pake perkara gusur menggusur yang memang adalah salah satu buah karyanya ahok. Yang berarti dia menyerang Ahok, lewat kinerjanya sebagai Gubernur. Altough I’m a hundred percent sure that we all can agree about how it is a low blow. Tapi kaya yang tadi saya bilang, menyerang ahok lewat agamanya jelas lebih rendah dari puisi ini. Masa sih kalian mau lebih rendah dan murahan dari ini? Saya sih No, gatau mas anang.

H for No.

Bagi saya pribadi, Ahok terjun bebas dari repect list saya ketika dia memutuskan untuk maju menjadi Gubernur lewat jalur partai. Apalagi Ahok pertama didukung sama Golkar dibawah naungannya Setya Novanto ga selang beberapa lama setelah dia mengeluarkan statement tidak akan maju tanpa Teman Ahok yang telah berhasil mengumpulkan sejuta KTP yang seharusnya bisa menamatkan riwayat beberapa orang yang mengeluarkan janji-janji politasu terkait bisa atau tidaknya Ahok menembus 1 Juta KTP.

Pertama, dia maju bersama Golkar dan Setya Novanto. S E T Y A NO V A N T O. Kayak gak perlu dijelaskan lagi. Cukup, S E T Y A NO V A N T O. Kedua, dia memangkiri statementnya sendiri, saya tahu bahwa maju independen dipersulit lahir bathin sama orang-orang di DPRD, tapi yaa njuk ngopo? Dengan sejuta KTP yang dimilikinya, bukannya Ahok telah memiliki kartu terpenting dalam perkara pemilu? Yep! The Power of People. Serese-resenya mas mas di DPRD, jumlah mereka gak sebanding sama jumlah masyarakat Jakarta yang jelas simpati sama doi.
.
So, naively speaking, sebodo teing lah sama mas mas DPRD ini, kalo Ahok maju secara independen, dan kemudian menang, akan Epic sekali kemenangannya. Tidak hanya ini benar menunjukan kemenangan rakyat, tapi juga sebagai preseden untuk majunya calon-calon independen berikutnya dan yang terpenting, Ahok menang dengan statusnya sebagai triple minoritas di Jakarta, murni hanya karena dukungan Masyarakatnya. Tapi yaa ini udah kaya di kiss goodbye aja, Ahok udah terlanjur maju lewat jalur partai, dimulai dari Setya Novanto, sekarang Ahok bahkan didukung sama Bu Banteng dan koloninya.

Kebayang gak sih kalo semua orang baik maju secara independen dan menang? Kaya paling ga ada sebagian persen keraguan kita pada pemerintahan yang bisa di-kiss goodbye karena tahu Pemimpinnya gak lagi ditunggangi kepentingan Partai yang tentunya memprioritaskan kepentingan mereka dibandingkan rakyat biar bagaimanapun indahnya kemungkinan sebaliknya dikemas di buku PPKn.

Sayangnya, bukannya kiss goodbye sama kepentingan Partai, kita malah harus kiss goodbye sama majunya orang-orang baik sebagai calon independen. Both Ahok and Anies, now has to compromise their integrity now that they’re in bed with the wolves. Or Bulls if you know what I mean. 


What's wrong with my poo?


Okay, mari kembali ke dua pertanyaan di awal yang menjadi akar permasalahan dari ini semua. Apakah Ahok dan Anies memang haus kekuasaan ataukah mereka sebegitu inginnya berkontribusi. Opsi kedua jelas lebih indah dan bisa membuat tidur kita lebih nyenyak. But realisticly speaking, we’ll never know. It’s just way beyond our control to know which option is true.

Know what is within our control? Us!

Yap! Kalo ada sesuatu yang kita bisa kontrol lahir bathin dengan baik, adalah kita sendiri jawabannya. Jadi, kalo pengen Jakarta lebih baik, kalo pengen Indonesia lebih baik, pengen Dunia lebih baik yaa jadilah orang baik. Paling gak baik buat diri sendiri. Kota yang baik gak semata mata langsung jadi dengan hadirnya pemimpin yang baik karena sejatinya, yang membentuk kota adalah masyarakatnya. Jangan harap Jakarta bisa punya lalu lintas yang ramah kalo trotoar masih dijadikan jalu cepat sepeda motor dan jembatan penyeberangan dipake latihan sama atelit tong setan. Jangan harap Jakarta bisa bebas macet, kalo parkir masih sesuka hati tepuk tangan, berhentiin angkot sekedar mengibaskan tangan di sembarang jalan, dan terus beli mobil dan memenuhi jalan sesuka hati hanya karena gaktau uang mau dipake buat apa lagi.

Sayangnya, calon pemimpin Jakarta bukan Obito yang bisa pake Infinite Tsukuyomi yang bisa memproyeksikan saringannya buat menghipnotis seluruh umat agar berlaku indah dan penuh tata krama. Jadi, kalo mau Jakarta berbenah, kalo mau Jakarta berubah, mulailah dari sesuatu yang bisa kalian kontrol lahir bathin untuk berubah dan berbenah. Yap! Mulailah dari kamu sendiri. Kamu. Iya, Kamu~~  


* saya tahu bahwa selain Ahok dan Anies, ada Agus yang juga mencalonkan diri menjadi Cagub. Tapi saya gatau apa-apa tentang Agus. Jadi saya gaktau mau nulis apa tentang Agus. Satu-satunya isu yang terpikir tentang Agus adalah, kalau sang Bapak pada saat menjadi presiden peninggalan terpopulernya adalah Album yang saya yakin banyak dari kita yang tahu tapi gak pernah dengar, maka kalau Agus menjadi Gubernur, paling tidak dia akan mengeluarkan EP. Jadi saya rasa Agus adalah calon yang tepat untuk kalian yang suka musik. Sekian tentang Agus dari saya. Maaf lahir bathin. 

No comments:

Post a Comment